Investor Domestik Perkuat IHSG di Tengah Aksi Jual Asing Rp 484 Miliar

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat 0,50 persen ke level 7.092 pada Rabu (6/5/2026) meski dibayangi aksi jual bersih investor asing senilai Rp 484 miliar. Ketahanan indeks ini didorong oleh peran dominan investor domestik dan saham lapis kedua atau second liner.

Aksi pelepasan aset oleh pemodal luar negeri paling banyak menyasar sektor perbankan yang merupakan penggerak utama pasar. Dilansir dari Money, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat nilai jual bersih terbesar mencapai Rp 189 miliar di seluruh pasar.

Tekanan jual juga melanda saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar Rp 122 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 90 miliar. Selain itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) masing-masing membukukan net sell Rp 79 miliar dan Rp 74 miliar.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa saham kapitalisasi besar (big caps) merupakan kelompok yang paling terdampak oleh aliran modal keluar. Hal ini terjadi karena kepemilikan investor global yang signifikan pada emiten-emiten tersebut.

"Bahwasanya ketika investor asing melepaskan saham-saham blue chip, kan ini lagi net sell tuh, kalau saham-saham blue chip itu kan seperti perbankan, misalnya ada BRI, Mandiri, dan BCA," ujar Nafan, Rabu malam.

Nafan menambahkan bahwa pelemahan harga pada saham unggulan justru menjadi kesempatan bagi pengelola dana institusi lokal seperti dana pensiun, asuransi, hingga BPJS Ketenagakerjaan. Mereka aktif melakukan akumulasi saham untuk kepentingan portofolio jangka panjang saat harga terkoreksi.

"Nah ini para pelaku dana institusi lokal ini ya ini mereka itu benar-benar memanfaatkan peluang memanfaatkan peluang ketika harga saham untuk akumulasi secara jangka panjang seperti itu," paparnya.

Stabilitas pasar juga terbantu oleh performa saham second liner di sektor energi, properti, dan konsumer non-siklikal yang lebih tahan terhadap sentimen global. Selain institusi, Nafan mencatat partisipasi aktif investor ritel dalam melakukan rotasi sektor yang menjaga likuiditas transaksi tetap stabil.

"Nah kemudian ada juga investor retail ya kan. Partisipasi investor retail tetap tinggi karena mereka juga seringkali masuk ke saham-saham yang sedang mengalami rotasi sektor, sehingga likuiditas pasar tetap terjaga, meskipun asing keluar," tukasnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), basis investor domestik terus menunjukkan ekspansi yang masif hingga mencapai 24,74 juta orang per Maret 2026. Pertumbuhan ini didominasi oleh generasi muda di bawah usia 30 tahun yang porsinya mencapai 54 persen dari total investor pasar modal.