Investor Lepas Obligasi Global Picu Lonjakan Biaya Pinjaman Dunia

Sedang Trending 40 menit yang lalu

Investor di seluruh dunia melakukan pelepasan obligasi pemerintah secara masif pada Jumat, 15 Mei 2026, yang memicu kenaikan biaya pinjaman ke level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Fenomena ini terjadi akibat kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu konflik perang dan potensi kenaikan suku bunga bank sentral.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, imbal hasil Treasury dua tahun di Amerika Serikat melonjak hingga 4,06 persen, posisi yang tidak pernah terlihat sejak Maret 2025. Kondisi serupa terjadi di Jepang dengan imbal hasil obligasi 30 tahun mencapai 4 persen untuk pertama kalinya sejak tahun 1999.

Kenaikan harga minyak Brent yang melampaui US$109 per barel turut memperburuk aksi jual menjelang akhir pekan. Di Inggris, krisis politik internal mendorong imbal hasil gilt 30 tahun ke titik tertinggi dalam 28 tahun terakhir, sementara negara lain seperti Jerman dan Australia juga mencatat kenaikan serupa.

Prashant Newnaha, ahli strategi suku bunga senior Asia-Pasifik di TD Securities di Singapura, memberikan peringatan mengenai dampak pergerakan pasar ini terhadap stabilitas global.

"Kenaikan imbal hasil obligasi global ini sedikit mengkhawatirkan," kata Prashant Newnaha.

Pakar strategi tersebut menambahkan bahwa tingginya harga komoditas energi dalam jangka panjang dapat memberikan tekanan berat pada instrumen surat utang tersebut.

"Harga minyak yang tinggi dan berkepanjangan bisa menjadi pukulan terakhir bagi obligasi," kata Prashant Newnaha.

Di pasar Asia, lonjakan imbal hasil juga dipicu oleh spekulasi pengetatan kebijakan moneter di Jepang, mengingat harga produsen di sana meningkat paling tajam sejak 2014. Rinto Maruyama, analis senior valuta asing dan suku bunga di SMBC Nikko Securities Inc, menyebut situasi ini sebagai sejarah baru.

"Di Jepang, di mana suku bunga telah mendekati nol dalam waktu lama, fakta bahwa imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) bertenor 30 tahun naik menjadi 4% merupakan peristiwa bersejarah," kata Rinto Maruyama.

Analis tersebut juga menyoroti perubahan fundamental ekonomi Jepang yang selama ini terbiasa dengan tren harga yang stagnan.

"Hal ini menunjukkan kemungkinan inflasi yang berkelanjutan di Jepang, yang selama ini dilanda deflasi," kata Rinto Maruyama.

Sementara itu, Gubernur The Fed Michael Barr menegaskan pada Kamis bahwa inflasi merupakan ancaman utama bagi stabilitas ekonomi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan biaya produsen AS meningkat paling cepat sejak 2022, sehingga pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai dua pertiga bagian.

Kenneth Crompton, kepala strategi suku bunga di National Australia Bank di Sydney, mencatat bahwa persepsi pasar terhadap risiko inflasi mulai berubah secara menyeluruh.

"Kekhawatiran tentang inflasi yang tertanam semakin meluas," kata Kenneth Crompton.

Inggris menghadapi tantangan tambahan berupa persaingan kepemimpinan antara Wali Kota Manchester Andy Burnham dan Perdana Menteri Keir Starmer yang memicu spekulasi peningkatan belanja publik. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris bertenor 10 tahun akhirnya melonjak 15 basis poin menjadi 5,14 persen, rekor tertinggi sejak 2008.