Konflik Timur Tengah Hambat Pertumbuhan Penumpang Pesawat Global

Sedang Trending 50 menit yang lalu

Lalu lintas penumpang pesawat global mengalami perlambatan pertumbuhan yang signifikan pada Maret 2026 akibat dampak konflik di Timur Tengah yang mengganggu operasional internasional. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mencatat kenaikan permintaan hanya mencapai 2,1 persen secara tahunan, turun drastis dari 6,1 persen pada bulan sebelumnya.

Data Air Passenger Market Analysis March 2026 menunjukkan total Revenue Passenger Kilometers (RPK) industri mencapai 754 miliar. Penurunan ini dilansir dari Money merupakan pertumbuhan terlemah sejak periode pemulihan pasca pandemi, dipicu oleh penyusutan volume trafik di wilayah konflik yang mencapai lebih dari 50 persen.

"Volume lalu lintas yang diangkut oleh maskapai penerbangan Timur Tengah menyusut lebih dari setengahnya, di tengah dampak konflik di wilayah tersebut," tulis IATA dalam laporannya.

Secara musiman, trafik global tercatat turun 4,7 persen dibandingkan Februari 2026 meski masih lebih tinggi 1,3 persen dari periode yang sama tahun lalu. Walaupun permintaan melambat, tingkat keterisian penumpang (PLF) justru mencetak rekor 83,6 persen karena penurunan kapasitas penerbangan sebesar 1,7 persen.

Kawasan Timur Tengah menjadi wilayah yang paling terdampak oleh ketegangan geopolitik dan penutupan wilayah udara, terutama yang melibatkan Iran. IATA melaporkan bahwa maskapai di kawasan tersebut mengalami penurunan trafik hingga 58,6 persen secara tahunan pada Maret 2026.

"Maskapai penerbangan Timur Tengah mengalami penurunan tajam dalam lalu lintas penumpang, turun 58,6 persen (YoY) pada Maret. Hal ini mencerminkan dampak meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik Iran dan penutupan wilayah udara yang meluas di kawasan tersebut," ungkap IATA.

Di sisi lain, Asia Pasifik justru mencatatkan rekor tingkat keterisian penumpang tertinggi sebesar 87,2 persen dengan pertumbuhan trafik 11,5 persen. IATA menilai kondisi tersebut disebabkan oleh pengalihan rute internasional dari hub Timur Tengah menuju rute alternatif di Asia dan Eropa.

"Kinerja ini menggarisbawahi dampak penutupan di pusat-pusat penerbangan Timur Tengah, yang berfungsi sebagai jembatan global yang penting, khususnya pada rute Asia Pasifik-Eropa," jelas IATA.

Pasar domestik menjadi penopang utama pertumbuhan global, di mana China memimpin dengan kenaikan trafik 13,7 persen yang didorong oleh perayaan Tahun Baru Imlek. Namun, India menjadi satu-satunya pasar domestik utama yang terkontraksi 1 persen akibat gangguan konektivitas menuju negara-negara Teluk.

"Mengingat peran Timur Tengah sebagai pusat utama lalu lintas transit antara Eropa dan Asia, khususnya untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara—konflik di kawasan tersebut menyebabkan pengalihan lalu lintas yang signifikan menuju layanan langsung antara kedua wilayah tersebut," tutur IATA.

IATA memproyeksikan kapasitas global akan mulai pulih pada Mei 2026 dengan estimasi pertumbuhan positif sebesar 2 persen. Meski demikian, kapasitas maskapai di wilayah Timur Tengah diperkirakan masih tetap berada di zona negatif dengan proyeksi penurunan 18,3 persen.