Sejumlah investor mulai mengalihkan perhatian pada peluang investasi di sektor perbankan syariah saat pasar saham mengalami kemerosotan pada paruh pertama tahun ini. Penilaian tersebut disampaikan dalam acara Stock Idea Festival di Jakarta pada Sabtu (23/5/2026).
Dilansir dari Bloomberg Technoz, potensi sektor perbankan syariah ini dinilai cukup menarik untuk dicermati lebih lanjut. Trader dan Founder Warga88 Stock Community, Bernad Mahardika Sandjojo, mengungkapkan bahwa industri ini didukung oleh basis pasar yang sangat besar di Indonesia.
Selain faktor pasar yang kuat, emiten perbankan syariah dinilai aman dari risiko kenaikan kredit bermasalah. Hal ini dikarenakan sektor tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan pembiayaan program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
"Kalau saya lihat sektor yang sekarang masih menarik itu sektor perbankan syariah," kata Bernad dalam Stock Idea Festival di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Penurunan harga saham justru sedang dialami oleh sejumlah bank Himbara lainnya. Koreksi tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan non-performing loan (NPL) akibat keterlibatan dalam dua proyek pemerintah tersebut.
Sebaliknya, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) diproyeksikan memiliki peluang besar untuk ikut menguat saat dana asing mulai mengalir kembali ke sektor perbankan. Bernad menegaskan posisi BRIS sangat diuntungkan karena terbebas dari eksposur program MBG dan Koperasi Desa.
"Yang jelas BRIS ga jadi ikut, saya suka bank syariah di Indonesia itu seksi banget," kata Bernad.
Hingga saat ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada empat emiten perbankan syariah. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), dan PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS).
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·