Iran Ancam Teluk Oman Jadi Kuburan Kapal AS

Sedang Trending 39 menit yang lalu

IRAN memperingatkan Amerika Serikat agar menghentikan blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz. Jika tekanan itu berlanjut, Teheran menyebut Teluk Oman dapat berubah menjadi “kuburan” bagi kapal perang Amerika Serikat.

Menurut laporan Turkiye Today pada Ahad, 18 Mei 2026, peringatan itu disampaikan Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sekaligus anggota Dewan Kebijaksanaan Iran.

“Saran saya kepada Amerika Serikat secara militer adalah mundurlah sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal Anda,” kata Rezaei dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran.

Ia menegaskan Iran memandang blokade laut sebagai tindakan perang. “Pemahaman kami, blokade angkatan laut adalah tindakan perang, dan meresponsnya adalah hak alami kami,” ujar dia.

"Kesabaran Tidak Berarti Menerima Tekanan"

Menurut laporan Anadolu, Rezaei mengatakan sikap menahan diri Iran selama ini tidak boleh diartikan sebagai penerimaan terhadap ancaman Washington.

“Jika kami bersabar sampai sekarang, itu tidak berarti kami menerimanya,” kata dia. Rezaei juga mempertanyakan alasan keberadaan kapal perang Amerika Serikat di kawasan Teluk. Menurut dia, alasan lama yang pernah digunakan Washington untuk mempertahankan kehadiran militernya sudah tidak relevan.

“Amerika datang ke sini dan membawa kapal perangnya. Siapa musuhnya? Dulu mereka mengatakan datang untuk menghadapi Uni Soviet. Uni Soviet sudah tidak ada lagi,” ujar Rezaei.

Selat Hormuz Tetap Dibuka untuk Perdagangan

Rezaei menegaskan Iran tidak berniat menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas perdagangan internasional. Namun, ia mengatakan jalur pelayaran strategis itu tidak akan dibiarkan digunakan untuk penumpukan kekuatan militer atau tindakan yang mengganggu keamanan kawasan.

“Selat Hormuz terbuka untuk perdagangan, tetapi akan tertutup bagi penumpukan militer dan setiap upaya yang mengganggu keamanan,” ucapnya.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Teheran kemudian membalas dengan serangan yang memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan permanen. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan batas waktu.

Sejak 13 April 2026, Amerika Serikat memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di perairan strategis tersebut.