Indeks utama di Wall Street mencetak rekor tertinggi baru pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026) setelah Iran membuka kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Kebijakan Teheran tersebut memicu penurunan tajam harga minyak dunia yang meredakan kekhawatiran inflasi global bagi para investor.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi pembukaan jalur krusial tersebut melalui platform media sosial X. Ia menyatakan bahwa akses navigasi bagi seluruh kapal komersial kini telah terbuka penuh seiring dengan kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.
"Jalur pelayaran bagi seluruh kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa periode gencatan senjata," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran dikutip dari BBC.
Kabar pembukaan Selat Hormuz ini langsung berdampak pada pasar komoditas energi dunia. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya sempat menyentuh angka 98 dolar AS per barel, terjun bebas ke posisi 88 dolar AS per barel pada hari yang sama.
Indeks Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan lonjakan 365,78 poin atau 1,52 persen ke level 24.468,48, yang menandai reli kenaikan selama 13 hari berturut-turut. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melonjak 868,71 poin ke 49.447,43, dan S\&P 500 bertambah 84,78 poin ke posisi 7.126,06 menurut laporan Reuters.
CEO Crossmark, Bob Doll, menilai sentimen pasar membaik karena berkurangnya risiko pelambatan ekonomi akibat gangguan energi. Optimisme muncul seiring dengan kemajuan proses diplomatik antara Amerika Serikat dan Teheran.
"Kekhawatiran tentang minyak yang akan memperlambat perekonomian dunia berkurang seiring dengan kemajuan menuju kemungkinan kesepakatan akhir," kata Bob Doll, CEO Crossmark.
Di sisi lain, perusahaan bermodal kecil juga merasakan dampak positif dari penurunan biaya energi. Indeks Russell 2000 ikut mencatatkan rekor penutupan tertinggi baru sejak pecahnya konflik di wilayah tersebut.
"Penurunan harga energi berdampak lebih besar pada perusahaan-perusahaan kecil karena mereka memiliki margin keuntungan yang lebih ketat," kata Nick Johnson, CEO Willis Johnson & Associates.
Kendati pasar saham bergairah, sektor energi menjadi satu-satunya yang tertekan di S\&P 500 dengan koreksi mencapai 2,9 persen. Saham Exxon Mobil dan Chevron masing-masing turun 3,6 persen dan 2,2 persen menyusul anjloknya harga minyak mentah.
Kondisi pasar global yang membaik ini kontras dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia yang ditutup melemah tipis 0,03 persen di level 7.621,38 pada Kamis (16/4/2026). Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS justru menguat ke posisi Rp17.125 per dolar AS di tengah harapan perdamaian di Timur Tengah.
Meskipun Selat Hormuz telah dibuka, Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memberikan catatan mengenai pemulihan pasokan energi jangka panjang. Ia memperingatkan bahwa kapasitas produksi di Timur Tengah tidak bisa kembali normal dalam waktu singkat.
"Namun, kami memperkirakan akan memakan waktu kira kira dua tahun secara keseluruhan untuk mencapai tingkat sebelum perang kembali," tulis Reuters seperti yang dikutip Fatih Birol, Kepala Badan Energi Internasional (IEA).
Birol menekankan bahwa absennya pengisian muatan tanker baru selama bulan Maret lalu mulai menciptakan celah pasokan di pasar Asia. Ia mengingatkan risiko lonjakan harga kembali jika normalisasi pengiriman tidak segera terjadi secara konsisten.
"Celah ini sekarang mulai terlihat jelas. Jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali, kita harus bersiap untuk harga energi yang jauh lebih tinggi," kata Fatih Birol.
Pihak IEA menyatakan tetap waspada terhadap perkembangan pasar energi global ke depan. Langkah-langkah darurat, termasuk penggunaan cadangan minyak tambahan, tetap menjadi opsi yang dipertimbangkan lembaga tersebut.
"Kami belum sampai pada tahap itu, namun hal tersebut pastinya sedang dalam pertimbangan," ujar Fatih Birol.
Dari pasar domestik AS, optimisme investor juga dibayangi oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi. Chief Investment Strategist di Sage Advisory, Rob Williams, mengingatkan bahwa volatilitas masih mungkin terjadi meskipun kesepakatan damai tercapai.
"Kita harus menghadapi beberapa kuartal pertumbuhan GDP yang di bawah standar," kata Rob Williams, Chief Investment Strategist di Sage Advisory.
Williams menambahkan bahwa semua pihak saat ini sedang menunggu penyelesaian masalah Iran sebagai stimulus positif utama. Namun, ia mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi AS kemungkinan akan berada di bawah angka 2 persen dalam beberapa kuartal mendatang.
"Semua orang seperti menunggu masalah Iran selesai dengan sendirinya, dan itu akan menjadi sentimen positif besar. Tetapi ekonomi AS masih tumbuh sekitar 2%. Kita mungkin akan melihat beberapa kuartal pertumbuhan di bawah 2%," ujarnya.
Pasar kini menantikan putaran pembicaraan tatap muka selanjutnya antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada akhir pekan ini.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·