Iran gunakan 'armada nyamuk' untuk kendalikan Selat Hormuz

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Moskow (ANTARA) - Otoritas Iran menggunakan apa yang disebut sebagai “armada nyamuk” yang terdiri dari ratusan kapal untuk mengendalikan Selat Hormuz, lapor Financial Times, Minggu, mengutip para ahli.

Pada April, para ahli mengatakan kepada majalah National Defense bahwa Iran, dengan “armada nyamuk”-nya yang terdiri dari sekitar 20 kapal selam mini kelas Ghadir dan beberapa ribu kapal cepat rudal serta kapal serang, dapat secara efektif melawan Angkatan Laut AS di Selat Hormuz dan Teluk Persia.

Menurut Financial Times, beberapa kapal tersebut hanya dipersenjatai ringan, tetapi lainnya dilengkapi rudal jarak pendek.

Publikasi itu menekankan bahwa, dikombinasikan dengan persenjataan rudal dan drone milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), armada tersebut membantu Iran “mempertahankan ancaman” yang cukup untuk menghalangi kapal-kapal melintasi Selat Hormuz.

Surat kabar tersebut mengklaim bahwa armada nyamuk” merupakan kekuatan permukaan paling aktif milik Iran. Menurut publikasi itu, angkatan laut Iran menggunakan baik kapal buatan dalam negeri yang murah dan mudah diganti, serta model-model yang lebih canggih.

Financial Times menilai bahwa “armada nyamuk” nyamuk memainkan peran sentral dalam pengendalian Selat Hormuz bahkan setelah berakhirnya permusuhan dengan AS dan Israel.

Adapun pada 28 Februari, AS dan Israel mulai menyerang target-target di Iran, menewaskan lebih dari 3.000 orang. Washington dan Teheran menyatakan gencatan senjata pada 8 April.

Pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil pasti, tanpa laporan dimulainya kembali permusuhan, namun Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: IRGC peringatkan AS agar tidak serang kapal Iran

Baca juga: Tumpahan minyak cemari wilayah pesisir Venezuela

Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.