Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengeluarkan ancaman militer keras terhadap Lebanon pada Selasa (28/4/2026) menyusul dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh kelompok Hizbullah. Ancaman ini muncul hanya dua hari setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan peningkatan eskalasi militer di wilayah Beirut.
Ketegangan ini terjadi saat masa perpanjangan gencatan senjata tiga minggu yang dimediasi Amerika Serikat masih berlangsung sejak 24 April. Dilansir dari Detikcom, baik pihak militer Israel maupun Hizbullah saling melemparkan tuduhan terkait serangan di wilayah perbatasan dan Lebanon selatan.
Pernyataan keras Katz disampaikan secara resmi dalam pertemuan dengan Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Lebanon, Jeanine Hennis-Plasschaert. Katz secara spesifik memperingatkan pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, mengenai dampak dari aksi penyerangan yang terus berlanjut.
"Naim Qassem sedang bermain api, dan api itu akan membakar Hizbullah dan seluruh Lebanon," tegas Katz, Menteri Pertahanan Israel.
Penegasan tersebut diikuti dengan peringatan mengenai konsekuensi fisik terhadap wilayah Lebanon. Katz juga mengklaim bahwa pemerintah Lebanon saat ini berlindung di balik pengaruh kelompok Hizbullah.
"Api akan berkobar dan melahap pohon-pohon cedar Lebanon," kata Katz memperingatkan.
Katz kemudian mengarahkan kritik tajam kepada otoritas tertinggi di Lebanon. Dia menuduh kepemimpinan nasional di sana tidak mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi stabilitas negara tersebut.
"mempertaruhkan masa depan Lebanon" tuduh Katz, Menteri Pertahanan Israel kepada Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Menteri Pertahanan Israel itu juga menyatakan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam terhadap aktivitas militer Hizbullah di wilayah selatan. Ia menegaskan telah memberikan instruksi khusus kepada pasukan darat dan udara Israel untuk melakukan tindakan balasan.
"merespons dengan tembakan dahsyat terhadap Hizbullah jika terjadi kerusakan, ancaman, atau pelanggaran kedaulatan Israel" kata Katz, Menteri Pertahanan Israel.
Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun memberikan tanggapan berbeda mengenai situasi diplomatik saat ini. Aoun menyatakan telah berkomunikasi dengan Amerika Serikat sebagai pihak penengah dalam proses negosiasi antara Beirut dan Tel Aviv.
"langkah pertama dan penting" ujar Joseph Aoun, Presiden Lebanon mengenai gencatan senjata.
Sementara itu, pemimpin Hizbullah Naim Qassem secara terbuka menyampaikan sikap politik kelompoknya terhadap upaya perdamaian tersebut. Ia menolak adanya pembicaraan formal yang melibatkan kedua negara secara langsung.
"dosa besar" ujar Naim Qassem, Pemimpin Hizbullah.
Berdasarkan data pemerintah Lebanon, agresi militer yang berlangsung sejak 2 Maret telah menelan korban jiwa lebih dari 2.500 orang. Serangan tersebut juga mengakibatkan 7.750 warga terluka dan memaksa sedikitnya 1,6 juta orang mengungsi dari kediaman mereka.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·