Israel Setujui Rencana Serangan Lanjutan ke Lebanon dan Iran

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, meresmikan rencana kelanjutan operasi militer skala besar ke wilayah Lebanon dan Iran pada Rabu (15/4/2026). Langkah strategis ini diambil guna menekan kemampuan pertahanan lawan dan mencegah pencapaian prestasi di bidang nuklir maupun kendali atas Selat Hormuz.

Dilansir dari Detikcom, Letnan Jenderal Eyal Zamir menegaskan bahwa pihaknya bersama Amerika Serikat sebelumnya telah melancarkan serangan keras yang melemahkan kekuatan Iran. Pihak militer Israel mengklaim telah mengantongi strategi untuk melakukan penghancuran total melalui serangan dahsyat yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.

"Sekarang kita tidak boleh membiarkan mereka mencapai prestasi apa pun dalam masalah nuklir, di Hormuz, dan dalam masalah lain yang sedang dibahas," kata Eyal Zamir, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Israel, sebagaimana dikutip dari Aljazeera.

Terkait situasi di perbatasan utara, Zamir menyatakan bahwa operasi militer di Lebanon selatan terus menunjukkan kemajuan signifikan. Pasukan Israel dilaporkan sedang melakukan pembersihan di area-area kunci untuk menyingkirkan ancaman serangan terhadap permukiman sipil di wilayah utara Israel.

Di sisi lain, tensi diplomatik mulai terlihat dengan munculnya potensi perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang direncanakan berlangsung di Islamabad, Pakistan. Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal kuat bahwa pertemuan tersebut mungkin terlaksana dalam kurun waktu dua hari ke depan.

Pemilihan lokasi di Islamabad didorong oleh hubungan baik Trump dengan Marsekal Lapangan Pakistan, Jenderal Asim Munir. Trump menepis kemungkinan pelaksanaan perundingan di Jenewa, Swiss, karena dianggap tidak memiliki relevansi langsung dengan situasi konflik yang sedang berkembang.

Namun, hambatan besar masih membayangi meja perundingan terkait poin-poin kesepakatan nuklir. Trump secara terbuka menyatakan ketidaksukaannya terhadap usulan penghentian pengayaan uranium Iran dengan jangka waktu 20 tahun.

Presiden Amerika Serikat tersebut menegaskan posisi teguhnya bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir sama sekali. Sebelumnya, upaya negosiasi di Pakistan yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance pada akhir pekan lalu telah berakhir tanpa membuahkan kesepakatan resmi.