Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menanggapi kritik Paus Leo XIV mengenai kebijakan luar negeri pemerintahan Donald Trump dalam kunjungannya ke Athens, Georgia, pada Rabu, 15 April 2026. Dalam acara yang diselenggarakan organisasi Turning Point USA tersebut, Vance menekankan pentingnya bagi pemimpin agama untuk berhati-hati saat berbicara mengenai urusan politik global.
Kunjungan Vance dilakukan setelah ia melakukan perjalanan diplomasi ke Pakistan yang gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran. Di hadapan audiens di sebuah arena kampus, Vance menyatakan bahwa meskipun ia menyambut baik komentar Paus, ada batasan yang harus diperhatikan dalam mencampurkan teologi dengan urusan negara.
"Sangat penting bagi Paus untuk berhati-hati ketika mencampurkan urusan global dengan teologi yang kompleks," kata JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat, sebagaimana dilansir dari Associated Press (AP). Pernyataan ini muncul sebagai respon atas kutipan Paus Leo XIV dari kitab Yesaya yang menyebut Tuhan tidak mendengar doa orang-orang yang berperang.
Acara tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi pemerintahan Trump dalam menggalang dukungan publik untuk konflik di Timur Tengah. Berdasarkan pantauan AP, jumlah kursi kosong di arena tersebut melampaui jumlah hadirin dengan rasio lebih dari dua banding satu, meskipun lokasi tersebut merupakan basis pendukung konservatif.
Sejumlah pendukung konservatif yang hadir juga menyatakan keberatan atas tindakan Presiden Trump yang baru-baru ini mengunggah meme diri sendiri sebagai sosok Yesus di media sosial. Joseph Bercher, seorang warga Katolik yang hadir, menyebut unggahan tersebut sebagai indikasi karakter Trump yang menganggap dirinya sebagai sosok yang harus disembah.
Selain masalah meme, para pemilih muda di lokasi tersebut menyuarakan kekhawatiran atas eskalasi ancaman militer terhadap infrastruktur sipil Iran yang disampaikan Trump pada pesan Paskah lalu. Ancaman tersebut sebelumnya telah memicu teguran keras dari Paus Leo XIV yang menyebut retorika tersebut sebagai hal yang benar-benar tidak dapat diterima.
Vance yang merupakan seorang pemeluk Katolik, sempat mempertanyakan posisi teologis Paus dengan membandingkan situasi Perang Dunia II. Ia berargumen bahwa Tuhan berada di sisi pasukan Sekutu saat mereka membebaskan tawanan dari kamp pemusnahan Nazi, sehingga menolak gagasan bahwa Tuhan menjauhi mereka yang terlibat dalam perang.
Acara di Georgia ini juga diwarnai dengan pembatalan kehadiran pemimpin utama Turning Point USA, Erika Kirk, karena adanya ancaman keamanan yang tidak disebutkan secara spesifik. Posisi moderator akhirnya digantikan oleh eksekutif organisasi, Andrew Kolvet, yang mengajukan pertanyaan langsung mengenai konflik Vatikan dan ketegangan perang kepada Vance.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·