Jepang pakai tanah pascabencana Fukushima untuk tanam bunga di Tokyo

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Tokyo (ANTARA) - Jepang akan mulai menggunakan 6 meter kubik tanah yang diambil selama pembersihan pascabencana nuklir Fukushima untuk menanam bunga di Kementerian Pertahanan dan Mahkamah Agung di Tokyo, kata menteri lingkungan hidup pada Selasa.

Dari 14 juta meter kubik lebih tanah yang disimpan di fasilitas sementara di Prefektur Fukushima, tanah dengan tingkat radiasi rendah telah digunakan di 10 lokasi, termasuk di kantor perdana menteri dan beberapa kementerian, sejak Juli tahun lalu.

Rencana penggunaan tanah di Kementerian Pertahanan dan Mahkamah Agung belum ditentukan waktunya.

Langkah itu diupayakan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menunjukkan bahwa sebagian tanah yang dipindahkan aman untuk digunakan, dan untuk mencari lokasi pembuangan akhir bagi tanah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima yang terkumpul.

Menteri Lingkungan Hidup Hirotaka Ishihara mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintah akan berupaya mencari lokasi pembuangan akhir di luar Prefektur Fukushima.

Berdasarkan undang-undang, tanah tersebut harus dipindahkan ke luar prefektur paling lambat Maret 2045, namun mereka menghadapi tantangan dalam menemukan lokasi pembuangan.

Menteri Rekonstruksi Takao Makino mengatakan dirinya berharap pemerintah dapat menemukan cara untuk menggunakan volume tanah yang lebih besar yang telah dikumpulkan dan memperluas penggunaannya ke sejumlah daerah.

Hingga akhir Maret, sekitar 14,3 juta meter kubik tanah telah dibawa ke fasilitas penyimpanan sementara di dekat PLTN Fukushima Daiichi yang rusak akibat bencana gempa bumi dan tsunami pada Maret 2011.

Sumber: Kyodo

Baca juga: Jepang perbaiki sistem peringatan cuaca untuk mempercepat evakuasi

Baca juga: Jepang survei potensi reaktor nuklir, pertama sejak bencana Fukushima

Baca juga: Belajar dari Jepang membangun memori kolektif bangsa terhadap bencana

Penerjemah: Katriana
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.