Jose Mourinho Tanggapi Rumor Kembali Latih Real Madrid

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Pelatih Benfica, Jose Mourinho, memberikan respons terkait spekulasi kembalinya dia ke Real Madrid menyusul kabar ketertarikan Presiden Florentino Perez untuk menggantikan posisi Alvaro Arbeloa di kursi pelatih Los Blancos pada April 2026.

Melansir laporan media Portugal Record, Perez mempertimbangkan Mourinho guna membawa suasana baru setelah Madrid tersingkir di perempat final Liga Champions. Mourinho, yang pernah melatih Madrid periode 2010-2013, saat ini masih terikat kontrak di Benfica hingga 2027.

Dalam konferensi pers terbaru yang dilansir Bola.com, Mourinho memberikan jawaban diplomatis namun penuh teka-teki saat ditanya mengenai jaminan masa depannya bersama klub asal Portugal tersebut.

"Apakah saya bisa menjamin akan berada di Benfica musim depan? Itu sudah saya bahas dua bulan lalu, beberapa pekan lalu, dan beberapa hari lalu." kata Mourinho, Pelatih Benfica.

Pria berusia 63 tahun itu kemudian membalas pertanyaan jurnalis dengan nada sarkastik untuk menegaskan ketidakpastian dalam dunia sepak bola profesional.

"I tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi," ujar Mourinho, Pelatih Benfica.

"Bisakah Anda menjamin Anda masih berada di pekerjaan Anda?" cetus Mourinho, Pelatih Benfica.

Meskipun Mourinho membuka pintu spekulasi, rencana tersebut mendapat penolakan keras dari mantan penyerang timnas Belanda, Wim Kieft. Melalui podcast KieftJansenEgmondGijp, Kieft menilai Mourinho sudah tidak memiliki nilai inovasi bagi klub sebesar Real Madrid.

"Kamu nggak boleh mau itu lagi, bro," kata Kieft, Mantan Pemain Belanda.

Kieft menyoroti masa kepemimpinan Mourinho sebelumnya di Bernabeu yang penuh dengan gesekan internal, termasuk perilaku agresif bek Pepe di bawah arahannya.

"Dia sudah pernah jadi pelatih Real Madrid. Itu tahun ketika Pepe benar-benar dianggap gila." ujar Kieft, Mantan Pemain Belanda.

Pengamat sepak bola ini menambahkan bahwa masa kejayaan Mourinho sebagai pelatih elit dunia sudah berakhir dan ia lebih menyarankan Madrid untuk melirik Jurgen Klopp.

"Dia bukan pembaru. Semuanya sama saja. Yang terbaik sudah lama berlalu, tahu. Daripada itu, saya lebih suka melihat Klopp di sana." ucap Kieft, Mantan Pemain Belanda.

Lebih lanjut, Kieft mengenang insiden memalukan yang melibatkan mendiang Tito Vilanova sebagai titik balik kegagalan harmonisasi tim saat Mourinho bersaing dengan Barcelona era keemasan.

''Segalanya berantakan saat dia datang ke Madrid. Itu adalah tim yang hebat. Tapi ada juga FC Barcelona dengan Xavi, Messi, Iniesta, Busquets. Kamu tak pernah bisa mengalahkan mereka. Dengan jari di mata pria malang yang telah meninggal itu'' tutur Kieft, Mantan Pemain Belanda.

Senada dengan Kieft, Rene van der Gijp menilai kegagalan Mourinho bermula sejak ia memosisikan dirinya terlalu tinggi secara personal di atas kepentingan taktis tim.

“Saya pikir Mourinho pada masa awalnya di Real Madrid dan di Inter, bersama Sneijder dan Eto’o, adalah pelatih yang hebat. Semuanya berantakan saat dia mulai menyebut dirinya The Special One,” ungkap Van der Gijp, Analis Sepak Bola.

Ia menganggap klaim kehebatan diri Mourinho pada masa lalu justru menjadi penghambat efektivitas kepemimpinannya saat ini.

“Dia mengira dirinya adalah pembeda. Tentu saja itu tidak benar.” pungkas Van der Gijp, Analis Sepak Bola.