Lembaga keuangan JPMorgan menurunkan proyeksi rata-rata harga emas untuk tahun 2026. Langkah ini diambil seiring dengan melemahnya permintaan dari para investor dalam jangka pendek.
Dikutip dari Money, bank investasi asal Amerika Serikat tersebut mengoreksi angka rata-rata harga emas tahun depan menjadi 5.243 dollar AS per ounce dari estimasi sebelumnya sebesar 5.708 dollar AS per ounce.
Bila dikonversi menggunakan kurs Rp 17.675 per dollar AS, target rata-rata baru tersebut setara dengan Rp 92,67 juta per ounce. Penurunan minat investor ini terdeteksi setelah emas sempat mengalami tren kenaikan atau reli besar pada periode sebelumnya.
Meskipun melakukan pemangkasan rata-rata tahunan, perusahaan finansial global tersebut tetap bersikap optimis terhadap prospek logam mulia. Mereka memprediksi harga emas masih berpeluang menembus level 6.000 dollar AS per ounce atau sekitar Rp 106,05 juta per ounce pada akhir tahun 2026.
Pihak lembaga keuangan melihat adanya indikasi kelesuan aktivitas perdagangan di pasar berjangka yang belum memperlihatkan pemulihan berarti.
“Kesunyian tercermin dalam aktivitas dan metrik permintaan yang stagnan,” tulis analis JPMorgan dalam catatannya.
Beberapa indikator pasar yang menunjukkan perlambatan antara lain adalah rendahnya posisi open interest untuk kontrak berjangka emas di COMEX. Selain itu, pergerakan dana investor institusi di pasar futures serta arus modal masuk ke exchange traded fund (ETF) berbasis emas juga dilaporkan masih tertahan.
Kondisi tersebut dinilai menghambat momentum pertumbuhan harga emas untuk sementara waktu. Namun, pihak analis meyakini situasi ini hanya bersifat temporer dan memproyeksikan permintaan akan kembali bergairah pada paruh kedua tahun 2026.
Dukungan Pembelian Bank Sentral Dunia
Sikap optimis terhadap masa depan logam mulia ini didorong oleh perkiraan berlanjutnya aksi beli dari bank sentral global serta investor institusional. Pada proyeksi terdahulu, institusi ini bahkan sempat memperkirakan emas dunia berpotensi menyentuh 6.300 dollar AS per ounce.
Volume pembelian emas oleh bank sentral di seluruh dunia diprediksi mampu mencapai 800 ton sepanjang tahun 2026. Fenomena ini sejalan dengan strategi diversifikasi cadangan devisa yang terus dijalankan oleh berbagai negara.
Di samping itu, proyeksi jangka panjang untuk komoditas ini juga dinaikkan ke posisi 4.500 dollar AS per ounce. Kekuatan harga emas di masa depan dinilai masih ditopang oleh tingginya ketidakpastian geopolitik global.
“Permintaan bank sentral dan investor terhadap emas diperkirakan akan tetap kuat,” tulis JPMorgan dalam laporan risetnya.
Tekanan Suku Bunga dan Faktor Geopolitik
Pergerakan harga komoditas ini dalam beberapa waktu terakhir juga menghadapi tantangan dari kokohnya nilai tukar dollar AS serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Suku bunga yang tinggi secara umum meningkatkan opportunity cost bagi para pemegang aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga seperti emas.
Pada aktivitas perdagangan pekan lalu, harga logam mulia ini sempat mengalami koreksi lebih dari 1 persen yang dipicu oleh kekhawatiran inflasi serta ekspektasi kebijakan suku bunga ketat di Negeri Paman Sam. Posisi harga saat ini terpantau masih berada di bawah catatan rekor tertinggi yang sempat dicapai pada awal tahun 2026.
Faktor eksternal lain seperti eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, dinamika hubungan antara Iran dan Amerika Serikat, serta fluktuasi harga minyak mentah dunia ikut memengaruhi pergerakan pasar. Ketika harga energi melonjak dan memicu inflasi, bank sentral AS atau The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang kemudian menjadi penahan laju kenaikan harga emas.
36 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·