PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus menyediakan layanan kereta api ekonomi bersubsidi melalui KA Cikuray dengan tarif perjalanan terjauh rute Garut ke Pasar Senen sebesar Rp 45.000. Layanan bersubsidi atau Public Service Obligation (PSO) ini menjadi pilihan transportasi ekonomis bagi mobilitas antarkota masyarakat, seperti dilansir dari Money.
Pengguna KA Cikuray berasal dari berbagai kalangan, termasuk pelajar, pekerja, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang, hingga wisatawan. Kereta ini berfungsi sebagai sarana pergerakan masyarakat untuk urusan keluarga, pendidikan, maupun aktivitas ekonomi.
Kebutuhan masyarakat terhadap moda transportasi ini tecermin dari pertumbuhan jumlah pelanggan yang konsisten meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada relasi Garut ke Pasar Senen (KA 299), volume penumpang naik dari 157.735 orang pada 2022 menjadi 272.648 orang pada 2023, atau tumbuh sebesar 72,85 persen.
Jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 305.959 pelanggan pada 2024 dan menyentuh angka 313.926 pelanggan pada 2025. Tren positif serupa terlihat pada relasi sebaliknya, yaitu Pasar Senen ke Garut (KA 300).
Volume penumpang KA 300 yang awalnya sebesar 135.530 orang pada 2022 naik menjadi 242.119 orang pada 2023, mencatatkan pertumbuhan 78,65 persen. Angka ini bertambah menjadi 285.130 orang pada 2024 dan mencapai 301.797 pelanggan sepanjang tahun 2025.
Secara kumulatif, KA Cikuray telah melayani sebanyak 2.014.844 pelanggan selama periode tahun 2022 sampai 2025. Sementara pada rentang Januari hingga April 2026, jumlah penumpang tercatat mencapai 211.498 orang.
Data awal tahun 2026 tersebut terdiri dari 107.459 pelanggan untuk relasi Garut ke Pasar Senen dan 104.039 pelanggan untuk relasi Pasar Senen ke Garut. Akumulasi total pengguna KA Cikuray sejak awal beroperasi tahun 2022 hingga April 2026 telah menembus 2.226.342 orang.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan bahwa tren peningkatan jumlah pelanggan tersebut menunjukkan KA Cikuray semakin menjadi bagian penting dari aktivitas dan mobilitas masyarakat di berbagai wilayah yang dilayani kereta tersebut.
Menurutnya, layanan ini tidak hanya mendukung konektivitas antardaerah, tetapi juga berperan dalam memperluas akses transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau bagi masyarakat.
"KA Cikuray menghubungkan banyak cerita dalam satu perjalanan. Ada pelajar yang berangkat menuntut ilmu ke kota besar seperti Jakarta, pekerja yang menuju tempat aktivitasnya, wisatawan yang ingin menikmati keindahan Garut dengan tarif terjangkau, hingga masyarakat yang melakukan perjalanan untuk bertemu keluarga dan kerabat," ujar Anne dalam keterangan resmi, Minggu (31/5/2026).
Dalam rute operasionalnya, KA Cikuray berhenti di 12 stasiun. Stasiun tersebut meliputi Garut, Cibatu, Leles, Kiaracondong, Bandung, Cimahi, Purwakarta, Cikampek, Karawang, Cikarang, Bekasi, hingga berakhir di Pasar Senen.
Setiap stasiun pemberhentian memiliki karakteristik wilayah dan peran yang berbeda dalam menopang aktivitas masyarakat sekitar. Wilayah Garut, Cibatu, dan Leles menonjol dengan sektor pertanian serta perdagangan di kawasan pegunungan sejuk.
Saat memasuki kawasan Bandung Raya, perjalanan melewati Kiaracondong, Bandung, dan Cimahi yang menjadi pusat sektor pendidikan, jasa, perdagangan, serta ekonomi kreatif. Selanjutnya, kereta melayani wilayah Purwakarta yang berkembang sebagai destinasi wisata dan niaga.
Jalur kemudian mengarah ke Cikampek, Karawang, dan Cikarang yang merupakan kawasan pusat industri terbesar di Indonesia. Menjelang akhir rute, KA Cikuray berhenti di Bekasi sebagai kota penyangga Jakarta dengan tingkat mobilitas komuter yang tinggi sebelum menyentuh stasiun akhir di Pasar Senen.
Pemandangan alam berupa perbukitan, lahan pertanian, dan perkebunan sayur menjadi ciri khas yang dapat dinikmati penumpang sepanjang perjalanan. Kondisi geografis yang subur menjadikan wilayah Garut sebagai produsen utama komoditas hortikultura di Jawa Barat seperti kentang, wortel, kubis, tomat, cabai, bawang daun, jeruk, dan alpukat.
Anne menuturkan bahwa hubungan antara daerah penghasil hasil bumi dengan kota-kota tujuan akan semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi.
"Ketika hasil bumi dari daerah dapat menjangkau lebih banyak wilayah, manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat,” ujar dia.
“Petani memiliki akses pasar yang semakin luas, pedagang memiliki lebih banyak pilihan, dan masyarakat dapat memperoleh produk segar dari berbagai daerah penghasil," jelas Anne.
Operasional KA Cikuray menghubungkan berbagai daerah dengan latar belakang ekonomi yang kontras, mulai dari sektor agraris di Garut, pusat edukasi di Bandung, kawasan manufaktur di Bekasi-Cikarang, hingga pusat bisnis Jakarta.
"Kereta api selalu tumbuh bersama kebutuhan masyarakat. Seiring berkembangnya aktivitas masyarakat dan perekonomian di berbagai daerah, peluang untuk menghadirkan manfaat yang lebih besar juga akan terus terbuka," tegas Anne.
36 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·