Aksi kriminalitas ekstrem akibat kecanduan judi online kembali memakan korban jiwa di wilayah Lahat, Sumatera Selatan dan Makassar, Sulawesi Selatan pada rentang waktu 10 hingga 13 April 2026. Peristiwa tragis ini melibatkan aksi mutilasi dan pembunuhan yang dipicu oleh konflik finansial keluarga untuk modal bertaruh.
Di Lahat, seorang anak tega memutilasi ibu kandungnya pada Jumat, 10 April 2026, setelah permintaannya untuk mendapatkan uang ditolak. Pelaku diketahui sebelumnya telah menggadaikan perhiasan emas milik ibunya guna membiayai kebiasaan bermain judi online.
Insiden serupa terjadi di Makassar pada Senin, 13 April 2026, di mana seorang pria tewas di tangan sepupunya sendiri yang terindikasi mengalami kecanduan serupa. Selain korban jiwa, sebuah video viral juga menunjukkan seorang ibu di Way Kanan, Lampung, terjerat utang Rp19 juta akibat ulah anaknya.
Fenomena pasar prediksi kini muncul sebagai ancaman baru yang mulai marak di media sosial dengan skema menyerupai perdagangan kontrak keuangan. Sebagaimana dilansir dari Money, platform ini memungkinkan pengguna bertaruh pada hasil kejadian masa depan mulai dari olahraga, ekonomi, hingga isu geopolitik.
Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pada 2024 mencatat jumlah pemain judi online di Indonesia mencapai 9,8 juta orang. Sekitar 70 persen dari total pemain tersebut merupakan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah di bawah Rp5 juta per bulan.
Upaya penindakan oleh pemerintah sepanjang 2025 berhasil menurunkan nilai transaksi sebesar 20 persen menjadi Rp286,8 triliun. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan telah memblokir sekitar 240.000 situs dan 2 juta konten negatif sepanjang tahun lalu.
Kepolisian juga telah mengungkap 664 kasus perjudian yang berujung pada penetapan 744 tersangka selama periode 2025. Namun, keberadaan pasar prediksi yang menawarkan taruhan pada konflik geopolitik dan hasil pemilu masih menjadi tantangan regulasi yang serius.
Pasar prediksi sering kali menggunakan istilah teknis keuangan untuk mengelabui pengguna agar merasa sedang berinvestasi, padahal prinsip dasarnya adalah spekulasi peruntungan. Beberapa negara seperti Singapura, Portugal, dan Rusia telah resmi melarang akses ke situs pasar prediksi tersebut karena risiko manipulasi dan dampak sosialnya.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·