Kecerdasan buatan (AI) kembali memicu kehilangan pekerjaan besar pada sejumlah profesi di Amerika Serikat pada periode Mei 2024 hingga Mei 2025 untuk tahun kedua berturut-turut, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) Amerika Serikat menunjukkan kelompok 18 profesi yang terekspos AI mengalami penurunan lapangan kerja sebesar 0,2 persen. Sebaliknya, total lapangan kerja AS secara keseluruhan justru masih mencatatkan kenaikan 0,8 persen pada periode yang sama.
Penyusutan lapangan kerja ini dipimpin oleh posisi layanan pelanggan, beberapa jenis sekretaris, serta tenaga penjualan. Fenomena ini mengindikasikan bahwa AI kemungkinan besar mulai mengubah pola perekrutan tenaga kerja secara global.
Jika kategori sekretaris dan asisten medis yang tumbuh pesat di sektor kesehatan dikeluarkan dari daftar, lapangan kerja pada 17 profesi lainnya merosot hingga 1,6 persen. Kondisi tersebut memberikan indikasi kuat mengenai dampak nyata penerapan alat AI di tempat kerja.
Ekonom Goldman Sachs dalam laporannya ikut mengonfirmasi pergeseran tren ketenagakerjaan ini akibat disrupsi teknologi di pasar kerja.
"profesi yang sangat terekspos pada substitusi AI mengalami penurunan lowongan kerja hingga di bawah level sebelum pandemi, sementara profesi yang terekspos pada augmentasi AI atau yang lebih sedikit terdampak AI mengalami penurunan lowongan yang lebih bertahap." kata ekonom Goldman Sachs.
Laporan Occupational Employment and Wage Statistics dari BLS mencatat jumlah pekerja customer service turun sebanyak 130.180 orang atau 4,8 persen. Posisi sekretaris dan asisten non-medis menyusut 1,8 persen, sementara tenaga penjualan grosir non-produk teknis turun 2,3 persen.
Sejak Mei 2022, penurunan terbesar terjadi pada petugas otorisasi kredit sebesar 26,2 persen, diikuti penyiar radio 20,8 persen, dan sales engineer 13,2 persen. Penurunan tajam ini dihitung sejak peluncuran ChatGPT OpenAI akhir tahun tersebut.
Meskipun data menyajikan tanda awal dampak AI terhadap pasar tenaga kerja, pihak berwenang meminta agar daftar profesi tersebut tidak dianggap sebagai acuan mutlak.
"tidak boleh dianggap sebagai daftar yang lengkap atau definitif," kata BLS.
Lembaga tersebut menambahkan bahwa daftar 18 profesi yang dirilis sebelumnya hanyalah representasi dari pergeseran tren yang sedang berlangsung saat ini.
"contoh profesi yang saat ini secara wajar diperkirakan terdampak AI." kata BLS.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·