Keluarga Lepas Keberangkatan Calon Jemaah Haji Sumenep dengan Isak Tangis

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Isak tangis keluarga mewarnai pelepasan ratusan calon jemaah haji (CJH) asal Kabupaten Sumenep di sisi timur GOR A. Yani, Kecamatan Kota Sumenep, Jawa Timur, Senin (11/5/2026). Sebagaimana dilansir dari Cahaya, momen emosional pecah saat iring-iringan bus mulai bergerak meninggalkan lokasi dengan pengawalan kepolisian.

Rasa haru dialami Astri, salah satu anggota keluarga yang melepas neneknya, Suwani (70), untuk berangkat ke Tanah Suci. Perempuan asal Kecamatan Manding tersebut terus melambaikan tangan ke arah bus meskipun ia mengaku sudah mempersiapkan mental sejak beberapa hari sebelumnya.

"Baru jalan saja sudah kangen," kata Astri kepada Kompas.com di Sumenep.

Astri merasa sedikit tenang karena neneknya tidak berangkat sendiri melainkan bersama empat anggota keluarga lainnya dalam satu kelompok terbang (kloter). Keberadaan kerabat dalam rombongan yang sama diharapkan dapat membantu aktivitas Suwani selama menjalankan ibadah.

"Alhamdulillah satu rombongan semua, jadi ada keluarga yang bisa saling bantu," sambung Astri.

Pihak keluarga telah menyiapkan alat komunikasi khusus untuk memantau kondisi kesehatan Suwani selama di Arab Saudi. Namun, karena faktor usia dan keterbatasan literasi, Suwani akan dibantu oleh kerabat lain saat melakukan panggilan video dengan keluarga di rumah.

"Kalau nenek tidak pegang ponsel sendiri karena memang tidak bisa baca tulis. Nanti video call dibantu keluarga yang lain," ungkap Astri.

Astri menjelaskan bahwa meskipun ada anggota keluarga yang pernah melaksanakan ibadah umrah, durasi pelaksanaan haji yang cukup lama memberikan kesan kehilangan yang berbeda. Upaya komunikasi rutin melalui telepon seluler menjadi cara utama untuk mengobati rasa rindu keluarga selama masa operasional haji.

"Sudah disiapkan supaya nanti bisa video call. Tapi tetap saja sedih," jelas Astri.

Kondisi serupa dialami oleh Ismi, seorang anak yang tidak sanggup menahan tangis saat bus yang membawa ibunya mulai menjauh dari area GOR. Ismi terlihat bersandar pada kakeknya, Karim, sembari menundukkan kepala dan sesekali mengusap air mata.

"Ibunya yang berangkat (haji)," ujar Karim, kakek Ismi.

Karim berusaha memberikan penguatan kepada cucunya dengan meminta Ismi agar terus mendoakan kelancaran ibadah sang ibu. Banyak keluarga lain di lokasi tersebut juga melakukan hal serupa, mulai dari merekam momen keberangkatan hingga terus melambai sampai bus tidak lagi terlihat di jalan raya.