Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Sembilan Provinsi Indonesia

Sedang Trending 51 menit yang lalu

Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mengonfirmasi temuan 23 kasus Hantavirus yang mengakibatkan tiga pasien meninggal dunia di sembilan provinsi berbeda pada periode 2024 hingga Jumat (08/05/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, tingkat fatalitas kasus ini tercatat mencapai angka 13 persen secara nasional.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, memberikan rincian mengenai klasifikasi medis dari temuan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa seluruh kasus yang terdeteksi merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang dipicu oleh strain Seoul virus.

"Ini situasi nasional. Ada 23 positif, tiga kematian, sisanya sembuh. Sisa dua kasus suspek sudah terkonfirmasi negatif," ujar Aji dalam keterangannya kepada Bloomberg Technoz, Jumat (08/05).

Penyebaran kasus didominasi oleh wilayah Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan masing-masing enam pasien. Selebihnya tersebar di Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Banten, dan Jawa Timur.

Distribusi Kasus Konfirmasi Hantavirus per WilayahProvinsiJumlah Kasus
Jakarta6
Daerah Istimewa Yogyakarta6
Jawa Barat5
Nusa Tenggara Timur1
Kalimantan Barat1
Sumatera Barat1
Sulawesi Utara1
Banten1
Jawa Timur1

Data dari studi Rikhus Vektora oleh Balai Litbangkes Kelas I Salatiga memperluas cakupan peringatan ini. Kemenkes mengungkapkan bahwa hewan pembawa atau reservoir virus ini, yaitu tikus, telah ditemukan di 29 provinsi di seluruh Indonesia.

Mengenai mekanisme penularannya, Aji Muhawarman menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap interaksi fisik dengan hewan pengerat. Infeksi terjadi akibat kontak manusia dengan tikus atau celurut yang terjangkit, termasuk paparan sekresi mereka.

Kementerian Kesehatan memberikan penilaian risiko untuk tahun 2025 yang membedakan dua jenis ancaman virus ini. Risiko impor kasus tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) berada pada level sedang, namun risiko penambahan kasus lokal tipe HFRS dinilai berada pada level tinggi.

Guna menekan angka penularan, pemerintah mendorong masyarakat untuk mengintensifkan kebersihan sanitasi lingkungan. Warga diimbau menghindari kontak langsung dengan kotoran tikus sebagai langkah pencegahan utama terhadap infeksi Hantavirus.