Argentina Selidiki Asal Hantavirus Terkait Wabah di Kapal Pesiar

Sedang Trending 57 menit yang lalu

Kementerian Kesehatan Argentina beserta tim peneliti medis tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan apakah negara tersebut menjadi titik awal penyebaran wabah hantavirus mematikan yang menyerang kapal pesiar MV Hondius. Investigasi ini diluncurkan menyusul adanya lonjakan kasus infeksi domestik pada Rabu, 6 Mei 2026, yang dikaitkan oleh para ahli dengan perubahan pola iklim di Amerika Selatan.

Otoritas kesehatan Argentina menyatakan bahwa saat ini pemerintah telah membagikan materi genetik dan peralatan pengujian kepada Spanyol, Senegal, Afrika Selatan, Belanda, dan Inggris. Langkah kerja sama internasional ini diambil guna membantu deteksi dini virus Andes (ANDV) di antara para penumpang kapal.

Data resmi dari Kementerian Kesehatan Argentina menunjukkan adanya 101 infeksi hantavirus yang tercatat sejak Juni 2025, yang menandakan kenaikan 100 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tingkat kematian akibat galur virus Andes juga meningkat drastis menjadi hampir 33 persen, melonjak dari rata-rata 15 persen selama lima tahun terakhir.

Spesialis penyakit menular, Hugo Pizzi, menjelaskan bahwa pergeseran lingkungan berkontribusi pada penyebaran patogen melalui peningkatan populasi hewan pengerat. Perubahan ekosistem yang cepat membuat jejak geografis virus ini semakin meluas ke berbagai wilayah baru.

"Argentina telah menjadi lebih tropis karena perubahan iklim, dan hal itu membawa gangguan, seperti demam berdarah dan demam kuning, tetapi juga tanaman tropis baru yang menghasilkan biji-bijian bagi tikus untuk berkembang biak," kata Hugo Pizzi, seorang spesialis penyakit menular Argentina yang terkemuka.

Pizzi menekankan bahwa kondisi lingkungan yang terus berubah memfasilitasi pergerakan virus ke area yang sebelumnya tidak terdampak.

"Tidak ada keraguan bahwa seiring berjalannya waktu, hantavirus semakin menyebar," kata Hugo Pizzi, seorang spesialis penyakit menular Argentina yang terkemuka.

Tim penyelidik saat ini sedang menelusuri riwayat perjalanan pasangan asal Belanda yang termasuk dalam tiga penumpang yang meninggal di atas kapal MV Hondius. Pria berusia 70 tahun dilaporkan wafat pada 11 April, disusul istrinya yang berusia 69 tahun pada 26 April, serta seorang wanita asal Jerman pada 2 Mei.

Profesor genetika dari Universitas Nasional Córdoba, Raul González Ittig, memberikan catatan bahwa virus ini sulit diidentifikasi sejak dini karena gejala awalnya yang tidak spesifik. Hal ini sering kali mengecoh pasien yang menganggap gangguan kesehatan tersebut hanya penyakit ringan biasa.

"Wisatawan mungkin mengira mereka hanya kedinginan dan tidak menanggapinya dengan serius. Hal itu membuatnya sangat berbahaya," kata Raul González Ittig, profesor genetika di Universitas Nasional Córdoba dan peneliti di badan sains negara CONICET.

Ittig menyoroti bahwa peningkatan curah hujan menyebabkan ketersediaan pangan bagi hewan pengerat meningkat, yang pada gilirannya menaikkan risiko paparan manusia terhadap kotoran atau air liur yang terinfeksi.

"Ketika curah hujan meningkat, ketersediaan makanan meningkat, populasi hewan pengerat tumbuh, dan jika ada hewan pengerat yang terinfeksi, peluang penularan antar hewan pengerat — dan akhirnya ke manusia — juga meningkat," kata Raul González Ittig, profesor genetika di Universitas Nasional Córdoba dan peneliti di badan sains negara CONICET.

Dampak virus ini telah menimbulkan duka mendalam bagi keluarga setempat, termasuk orang tua dari Rodrigo yang berusia 14 tahun. Remaja tersebut meninggal dunia pada bulan Januari di San Andrés de Giles setelah sebelumnya mendapatkan diagnosis medis yang keliru sebagai flu.

"Saya tidak mengharapkan rasa sakit ini terjadi pada siapa pun di dunia ini," kata David Delgado, ayah dari korban.