Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memberikan klarifikasi mengenai rencana masuknya investor asal China ke sektor industri peternakan ayam petelur nasional pada Selasa (12/5/2026). Penjelasan ini merespons kabar investasi senilai Rp 1,4 triliun untuk pengembangan rantai hulu perunggasan di Indonesia.
Dilansir dari Detik Finance, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, telah melangsungkan pertemuan dengan perwakilan Kadin untuk meluruskan informasi tersebut. Langkah ini diambil guna memastikan kepentingan peternak rakyat tetap terlindungi di tengah pembukaan ruang investasi asing.
"Kemudian juga pada rapat hari ini juga termasuk mengklarifikasi terkait dengan pemberitaan, yang mana ada rencana investor China yang akan melakukan investasi di peternakan ayam petelur. Tadi juga sudah dijelaskan oleh Pak Cecep dari perwakilan dari Kadin," ujar Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan.
Pemerintah memberikan penegasan bahwa pengembangan subsektor peternakan harus memberikan dampak positif bagi produksi nasional dan penciptaan lapangan kerja. Kementan memprioritaskan model kemitraan yang terukur antara pelaku usaha besar dengan peternak lokal.
"Kita ingin industri ini tumbuh sehat. Karena itu pemerintah mendorong model kemitraan yang melibatkan pelaku lokal, peternak rakyat, dan BUMN sebagai bagian dari penguatan rantai pasok nasional," kata Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Peternakan, Cecep M. Wahyudin, menilai kabar yang beredar saat ini masih terlalu dini untuk disimpulkan sebagai ekspansi besar-besaran. Ia menyebut posisi Kadin hanya sebagai fasilitator bagi para delegasi usaha asing yang ingin menjajaki potensi di tanah air.
"Perlu kami jelaskan bahwa itu adalah tahap awal adanya rencana atau keinginan investor dan delegasi dari China yang berminat untuk masuk ke Indonesia untuk mengembangkan peternakan ayam di Indonesia. Jadi masih tahap sosialisasi," ujar Cecep M. Wahyudin, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Peternakan.
Cecep menambahkan bahwa Kadin tetap berfokus pada penguatan kapasitas peternak rakyat melalui kolaborasi lintas kementerian. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong ekspor produk telur ke pasar internasional seperti Singapura.
"Kemudian juga Kadin beserta dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi terus menggenjot upaya bagaimana mempercepat dan memperbesar peternak rakyat, jadi antara berita dan kenyataan ini sangat jauh dari kenyataan," jelas Cecep M. Wahyudin, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Peternakan.
Rencana kerja sama yang sempat dibahas pada April 2026 tersebut menargetkan wilayah Provinsi Aceh sebagai lokasi pembangunan fasilitas produksi terintegrasi. Meskipun melibatkan teknologi modern, Kadin menjamin investor asing tidak akan mendominasi pasar secara vertikal sesuai regulasi persaingan usaha.
"Kadin berharap inisiatif ini dapat direplikasi di berbagai daerah, sehingga terbentuk kedaulatan pangan di masing-masing wilayah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional," ujar Cecep M. Wahyudin, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Peternakan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·