Kemlu: RI prioritaskan keamanan energi lewat kerja sama berbagai pihak

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan bahwa prioritas Pemerintah Indonesia adalah memastikan keamanan energi rakyat Indonesia yang mendesak dengan bekerja sama dengan berbagai mitra seperti AS dan Rusia.

Hal itu disampaikan oleh juru bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela dalam taklimat media di Jakarta, Kamis, merespons pertanyaan terkait usulan Uni Eropa kepada negara-negara anggota ASEAN untuk mencari sumber alternatif minyak selain dari Rusia.

“Di tengah kondisi geopolitik yang sangat dinamis saat ini, kita perlu mengamankan ketahanan energi sebagai kepentingan nasional yang sangat mendesak dan kita bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk Amerika Serikat dan Rusia,” jelas Nabyl.

Menurutnya, Indonesia juga terbuka untuk menjalankan kerja sama yang lebih kuat dengan semua pihak, termasuk Uni Eropa, guna mencapai ketahanan energi yang menjamin keterjangkauan, keandalan, ketersediaan, dan stabilitas untuk jangka panjang.

Pada 24 April, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa Indonesia berkomitmen untuk mengimpor minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026.

“Impornya akan dilakukan secara bertahap,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung.

Dia menyatakan bahwa impor minyak dari Rusia itu tidak dapat dilakukan sekaligus karena keterbatasan fasilitas penyimpanan dalam negeri, dan menjelaskan minyak itu akan digunakan untuk transportasi, industri, pertambangan, dan sebagai bahan baku petrokimia sesuai kebutuhan.

“Untuk pemenuhan kebutuhan sampai akhir tahun. 150 juta barel,” kata Yuliot.

Dia juga mengatakan bahwa komitmen Indonesia untuk mengimpor minyak mentah dari AS masih berlangsung.

Wakil menteri itu menyampaikan bahwa kebutuhan minyak Indonesia per harinya sekitar 1,6 juta barel, sedangkan produksi minyak Indonesia berada di kisaran 600 ribu barel per hari.

“Berarti kita impor sekitar 1 juta barel, kurang lebih. Kalau dikalkulasikan (sepanjang tahun) 150 juta itu juga kurang. Kita mencari tambahan dari negara-negara lain, termasuk yang dari Amerika,” ucap Yuliot.

Baca juga: Kemlu: Kunjungan ke AS, Rusia perwujudan polugri bebas-aktif RI

Baca juga: Kemlu tegaskan kerja sama energi dilakukan sesuai kepentingan nasional

Baca juga: Indonesia perkuat strategi diplomasi energi bersih nasional

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.