Kementerian Ketenagakerjaan dan Yayasan Mitra Netra memperkuat sinergi untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja disabilitas melalui pendampingan perusahaan dan peluncuran Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia di Jakarta pada Mei 2026.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2024 menunjukkan tingkat partisipasi kerja disabilitas baru menyentuh 23,94 persen dari total 17,8 juta jiwa. Khusus tunanetra, data DTSEN mengungkap hanya satu persen dari 4,2 juta jiwa yang bekerja di sektor formal.
Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi menyatakan pemerintah akan mendampingi perusahaan dalam proses rekrutmen hingga penyesuaian lingkungan kerja. Langkah ini mencakup penyediaan alat bantu kerja yang sesuai dengan ragam kebutuhan disabilitas.
"Kami ingin memastikan perusahaan tidak berjalan sendirian. Kemnaker hadir untuk mendampingi, mulai dari pemetaan jabatan yang cocok hingga memastikan fasilitas pendukung tersedia, sehingga tenaga kerja penyandang disabilitas dapat bekerja secara produktif dan nyaman," ujar Cris Kuntadi, Sekretaris Jenderal Kemnaker.
Pemerintah turut mengapresiasi empat unit usaha, yakni PT Burger Buto, PT Gandum, Rumah Batik Kinarsih, dan Warung Bambu Barokah atas komitmen mereka. Perusahaan tersebut dinilai telah melampaui kewajiban kuota satu persen tenaga kerja disabilitas sesuai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016.
"Apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini membuktikan bahwa inklusivitas bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan wujud nyata keberpihakan terhadap kemanusiaan dan pengakuan atas potensi kerja penyandang disabilitas," tegas Cris Kuntadi, Sekretaris Jenderal Kemnaker.
Kemnaker berharap langkah ini memicu kesadaran pelaku usaha lainnya untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih setara. Hal ini dianggap mampu memperkuat produktivitas serta nilai kemanusiaan di lingkungan profesional.
"Kami ingin semakin banyak perusahaan menyadari bahwa dunia kerja yang inklusif bukan hanya memungkinkan, tetapi juga mampu memperkuat produktivitas, solidaritas, dan nilai kemanusiaan di lingkungan kerja," pungkas Cris Kuntadi, Sekretaris Jenderal Kemnaker.
Sementara itu, Yayasan Mitra Netra menyoroti peran teknologi kecerdasan buatan (AI) dan perangkat asistif seperti NVDA dalam membuka peluang profesi baru. Fitur deskripsi gambar otomatis dan teks-ke-suara membantu tunanetra masuk ke sektor teknologi hingga keuangan.
"Penerbitan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia merupakan langkah strategis dalam menyelaraskan potensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri nasional. Direktori ini diharapkan mampu mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan budaya kerja yang inklusif disabilitas," ujar Aria, perwakilan Yayasan Mitra Netra.
Direktori tersebut mencatat 36 jenis profesi yang telah ditekuni tunanetra di Indonesia, mulai dari administrasi hingga kebijakan publik. Dokumen ini menjadi referensi bagi dunia usaha untuk memahami metode kerja dan penyediaan aksesibilitas digital bagi pekerja disabilitas.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·