Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mendorong perguruan tinggi untuk mencetak lulusan siap kerja guna memenuhi kebutuhan industri dan menekan angka pengangguran nasional pada Kamis (7/5/2026). Langkah ini diambil mengingat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari lulusan vokasi sempat mencapai 8,63 persen pada Januari 2026.
Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi menyatakan bahwa kesiapan kampus dalam menyediakan lulusan yang sesuai dengan dinamika dunia kerja saat ini menjadi kunci utama. Menurutnya, daya serap lapangan kerja terhadap lulusan berdaya saing akan mempercepat penurunan jumlah pengangguran di Indonesia.
"Kebutuhan tenaga kerja di sektor ketenagakerjaan saat ini tidak bisa disamakan dengan 10 tahun lalu atau dengan 20-30 tahun ke depan, sehingga seberapa siap kampus menyediakan lulusan yang benar-benar siap dengan dunia kerja," kata Cris Kuntadi, Sekretaris Jenderal Kemnaker.
Cris menambahkan bahwa pengakuan kemampuan lulusan oleh industri biasanya akan membuat mereka langsung direkrut oleh perusahaan tanpa proses tunggu yang lama.
"Kalau kemampuan lulusan dari kampus sudah diakui dia biasanya akan langsung diminta masuk ke perusahaan," ujar Cris Kuntadi, Sekretaris Jenderal Kemnaker.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan rencana pemerintah untuk mendisiplinkan perusahaan dalam melaporkan ketersediaan lowongan pekerjaan bagi masyarakat luas.
"Kami akan mencoba wajib lapor lowongan kerja tidak hanya diperuntukkan kepada perusahaan yang menyediakan tetapi juga bagi yang tidak membuka lowongan," kata Cris Kuntadi, Sekretaris Jenderal Kemnaker.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 5 Mei 2026, jumlah pengangguran di Indonesia tercatat sebanyak 7,24 juta orang. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 35 ribu orang dibandingkan Februari 2025, dengan TPT berada di level 4,68 persen.
Direktur Politeknik Negeri Malang Ir Supriatna Adhisuwignjo menjelaskan pihaknya kini mengedepankan praktik langsung di lapangan guna meminimalkan risiko ketidaksesuaian bidang keilmuan saat bekerja.
"Seharapannya mereka bisa langsung mengaplikasikan kemampuannya di dunia kerja," kata Supriatna Adhisuwignjo, Direktur Politeknik Negeri Malang.
Kurikulum pendidikan pada setiap program studi di perguruan tinggi tersebut juga telah disesuaikan dengan situasi terkini yang dibutuhkan oleh sektor industri.
"Kalau persoalan dinilai bisa masuk akan langsung dimanfaatkan project problem base, tetapi apabila membutuhkan aktivitas fisik bisa diselesaikan melalui magang mahasiswa atau nanti melalui tugas akhir mahasiswa," tutur Supriatna Adhisuwignjo, Direktur Politeknik Negeri Malang.
Upaya link and match juga dilakukan oleh sektor swasta, seperti yang dijalankan Harita Nickel di Pulau Obi melalui Mechanic Talent Pool Program (MTPP). Hingga April 2026, sebanyak 10 pemuda lokal telah berhasil terserap bekerja sebagai mekanik setelah menjalani pelatihan intensif selama lima bulan.
"MTPP tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga menyiapkan peserta agar siap bekerja sesuai standar industri. Kami melihat para lulusan kini mampu berkontribusi langsung dalam operasional," ujar Younsel Evand Roos, Direktur Operasional Harita Nickel.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Halmahera Selatan Daud Djubedi menyambut baik inisiatif industri tersebut dalam meningkatkan kompetensi masyarakat lokal agar memiliki daya saing.
"Program seperti ini penting untuk membuka akses kerja bagi masyarakat sekaligus meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan industri," jelas Daud Djubedi, Kepala Disnakertrans Halmahera Selatan.
HR & GA Manager Harita Nickel Rangga Aji Pratama memastikan bahwa para lulusan tidak dilepas begitu saja, melainkan mendapatkan pendampingan berkelanjutan untuk peningkatan karier.
"Mereka memulai sebagai junior mekanik dan akan terus mendapatkan pendampingan serta pelatihan lanjutan untuk berkembang menjadi mekanik yang lebih berpengalaman," tegas Rangga Aji Pratama, HR & GA Manager Harita Nickel.
Mulyono La Hasima, salah satu peserta pelatihan yang kini bekerja sebagai Auto Electrician, menyatakan bahwa keahlian teknis yang diperolehnya sangat membantu proses adaptasi di lingkungan kerja yang menantang.
"Sekarang saya terlibat langsung dalam perawatan dan perbaikan alat. Awalnya menantang, tapi ilmu dari pelatihan sangat membantu. Saya jadi lebih percaya diri dan ingin terus meningkatkan keterampilan," tutur Mulyono La Hasima, Peserta Pelatihan.
Mulyono juga membagikan pandangannya mengenai pentingnya kepemilikan sertifikasi keterampilan di tengah ketatnya persaingan pasar kerja saat ini.
"Skill itu penting. Kalau kita punya keahlian, kita punya lebih banyak peluang untuk bekerja dan berkembang," katanya Mulyono La Hasima, Peserta Pelatihan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·