Pasukan militer Amerika Serikat mengklaim telah menghancurkan lebih dari 90 persen dari sekitar 8.000 ranjau laut milik Iran melalui rangkaian operasi udara. Laporan ini disampaikan oleh Komandan Pasukan AS di Timur Tengah kepada anggota parlemen pada Kamis, 14 Mei 2026, di tengah kebuntuan akses di Selat Hormuz.
Kepala Komando Pusat (Centcom) AS, Laksamana Brad Cooper, mengungkapkan bahwa lebih dari 700 serangan udara telah menyasar persediaan ranjau laut Iran yang sebelumnya berjumlah sangat besar. Dilansir dari Bloombergtechnoz, Cooper menegaskan bahwa kemampuan asimetris Iran kini telah jauh berkurang dibandingkan aset militer tradisional mereka.
Data operasional menunjukkan bahwa militer AS telah melancarkan 13.500 serangan dan lebih dari 10.200 sorti penerbangan. Operasi bertajuk Epic Fury ini menargetkan seluruh kemampuan proyeksi kekuatan rezim Iran, termasuk basis industri pertahanan rudal balistik dan drone yang diklaim telah rusak hingga 85 persen.
"Iran masih memiliki kemampuan untuk mengganggu—gangguan, serangan drone dan roket skala kecil, serta dukungan proksi yang tersisa—tetapi tidak lagi memiliki sarana untuk mengancam operasi regional utama atau menghalangi kebebasan aksi AS di wilayah udara atau maritim," kata Cooper, Kepala Komando Pusat (Centcom) AS.
Laksamana Brad Cooper juga membeberkan efektivitas sistem pertahanan udara terintegrasi yang berpangkalan di Qatar dalam menangkal ribuan ancaman. Fasilitas di Pangkalan Udara al-Udeid tersebut tercatat telah membantu sekutu regional dalam mencegat berbagai jenis proyektil yang diluncurkan Iran.
"Melalui lebih dari 10.200 sorti dan lebih dari 13.500 serangan, kami menargetkan seluruh kemampuan rezim tersebut untuk memproyeksikan kekuatannya," kata Cooper, Kepala Komando Pusat (Centcom) AS.
Meskipun statistik operasional menunjukkan hasil masif, sejumlah pihak di Kongres mempertanyakan efektivitas strategis dari misi tersebut. Hal ini dikarenakan Selat Hormuz masih berada di bawah kendali Teheran dan tetap tertutup bagi pelayaran komersial normal selama lebih dari dua bulan.
"Kami merusak atau menghancurkan lebih dari 85% basis industri pertahanan rudal balistik, drone , dan angkatan laut Iran" dan "lebih dari 1.450 serangan terhadap fasilitas produksi senjata telah menghambat kemampuan rezim untuk membangun dan menimbun rudal balistik serta drone jarak jauh selama bertahun-tahun," kata Cooper, Kepala Komando Pusat (Centcom) AS.
Sentimen skeptis juga muncul terkait stabilitas rezim Iran yang dianggap masih utuh meskipun AS telah menghabiskan amunisi bernilai miliaran dolar. Senator Jack Reed menyoroti bahwa material nuklir dan sebagian besar rudal Iran masih berada pada tempatnya.
"Lebih dari 2.000 serangan “terhadap struktur komando dan kendali Iran menciptakan kekosongan kepemimpinan, kelumpuhan, dan kebingungan internal. Kami telah melihat laporan tentang pembelotan, kekurangan personel, dan tanda-tanda keputusasaan rezim dalam upaya mereka memaksakan disiplin melalui penangkapan dan eksekusi," kata Cooper, Kepala Komando Pusat (Centcom) AS.
Pihak militer AS saat ini juga tengah menghadapi tekanan publik terkait isu korban sipil dalam konflik tersebut. Salah satu investigasi yang sedang berjalan adalah mengenai serangan di sebuah sekolah perempuan di kota Minab yang dilaporkan menelan ratusan korban jiwa.
"Sistem pertahanan udara terintegrasi yang didirikan Komando Pusat AS di Pangkalan Udara al-Udeid di Qatar “memungkinkan sekutu regional untuk mencegat lebih dari 6.000 drone serang sekali pakai dan lebih dari 1.500 rudal balistik yang ditujukan ke pasukan AS, Israel, dan mitra Arab kami," kata Cooper, Kepala Komando Pusat (Centcom) AS.
Dalam laporannya, Cooper menyebutkan bahwa total penggunaan amunisi selama perang telah mencapai angka belasan ribu unit. Meski demikian, ia enggan memberikan estimasi menyeluruh terkait jumlah korban sipil yang terdampak operasi militer tersebut.
"Ada satu penyelidikan aktif terhadap korban sipil dari 13.629 amunisi tersebut," kata Cooper, Kepala Komando Pusat (Centcom) AS.
Kritik dari legislatif menekankan bahwa penutupan jalur air vital tersebut telah memicu lonjakan harga energi dunia. Kondisi gencatan senjata yang ada saat ini pun dinilai masih berada dalam situasi yang sangat rapuh dan kritis.
"Selat Hormuz masih tertutup, meski ada upaya untuk mengawal kapal-kapal komersial," kata Jack Reed, Senator Rhode Island.
Reed menambahkan bahwa tujuan akhir dari operasi militer besar-besaran ini masih belum jelas di mata publik. Ia menegaskan bahwa kemampuan Iran untuk mengganggu keamanan maritim belum sepenuhnya terhenti sebagaimana klaim militer.
"Rezim Iran masih utuh," kata Jack Reed, Senator Rhode Island.
Tinjauan terhadap persenjataan musuh juga menjadi sorotan dalam sidang tersebut. Reed menekankan bahwa pemulihan kekuatan militer Iran terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
"Material nuklirnya tetap berada di tempatnya. Sebagian besar rudal dan peluncurnya dilaporkan telah dipulihkan. Iran telah menunjukkan kemampuannya untuk menutup selat tersebut," kata Jack Reed, Senator Rhode Island.
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·