Kisah Mbah Tiwi, Nenek Sebatang Kara di Yogya Bertahan Hidup dengan Warung Rames

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Sumartiwi atau Mbah Tiwi (76), nenek sebatang kara di Yogyakarta yang bertahan hidup dengan berjualan di warung rames sederhana di Jalan Kolonel Sugiono, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta, Rabu (22/4/2026). Foto: Panji/kumparan

Tangan keriput Sumartiwi (76) dengan telaten memegang gagang sutil. Di atas minyak panas, potongan paha ayam dibolak-balik dengan saksama. Ayam ini digoreng menggunakan tungku dengan sumber api dari arang.

Tubuhnya mulai bungkuk, tangan kirinya harus membantu ketika tangan kanan mengangkat ayam dari penggorengan.

Ini adalah rutinitas Mbah Tiwi, sapaan akrab Sumartiwi, tiap pagi hari. Ia membuka warung sederhana di Jalan Kolonel Sugiono, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta.

Sumartiwi atau Mbah Tiwi (76), nenek sebatang kara di Yogyakarta yang bertahan hidup dengan berjualan di warung rames sederhana di Jalan Kolonel Sugiono, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta, Rabu (22/4/2026). Foto: Panji/kumparan

Warung rames sederhana ini diberi nama Warung Mbah Tiwi. Nama ini tersemat di gerobak berwarna biru yang telah memudar seiring waktu. Warung ini menjadi sumber penghasilan Mbah Tiwi yang hidup sebatang kara di Kotagede, Yogyakarta.

"Sejak 2001. Waktu gempa, saya pasang tenda di sini, seperti orang kemah," kata Mbah Tiwi mengisahkan warungnya dalam bahasa Jawa krama inggil, Rabu (22/4).

Sumartiwi atau Mbah Tiwi (76), nenek sebatang kara di Yogyakarta yang bertahan hidup dengan berjualan di warung rames sederhana di Jalan Kolonel Sugiono, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta, Rabu (22/4/2026). Foto: Panji/kumparan

Setiap hari, Mbah Tiwi harus menempuh perjalanan sekitar 4 kilometer dari rumahnya di Kotagede menuju warungnya. Ia mengendarai sepeda onthel. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke warung.

"Berangkat dari rumah jam 07.00, sampai sini jam 08.00. Saya naik sepeda," katanya.

Di perjalanannya, Mbah Tiwi menyempatkan belanja bahan kebutuhan warung, seperti ayam yang dibelinya dari pedagang di pinggir jalan.

Sembari berbincang, Mbah Tiwi menyiapkan sajian lainnya untuk warungnya. Usai menggoreng ayam, ia kemudian mengiris tempe untuk digoreng.

Di tengah proses membuat hidangan tempe goreng, hujan mengguyur Kota Yogyakarta. Mbah Tiwi lalu bergegas ke belakang warung untuk mengambil terpal.

Sesi wawancara sempat terhenti. Kami bersama-sama memasang terpal berkelir biru dan oranye.

Sumartiwi atau Mbah Tiwi (76), nenek sebatang kara di Yogyakarta yang bertahan hidup dengan berjualan di warung rames sederhana di Jalan Kolonel Sugiono, Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta, Rabu (22/4/2026). Foto: Panji/kumparan

Tali rafia di empat ujung terpal ditambatkan ke tiang-tiang di sekitar. Terpal berukuran 2x1 meter itu terpasang, namun air masih bisa masuk karena terdapat lubang di sana-sini.

"Bolong-bolong," katanya.

Setelah terpal terpasang, Mbah Tiwi kembali melanjutkan aktivitasnya. Namun, lubang-lubang di terpal itu membuatnya kebasahan. Ia lalu menuju sepedanya untuk mengambil mantel plastik berwarna merah.

Dengan mengenakan jas hujan, Mbah Tiwi kembali melanjutkan aktivitas memasaknya.