Kisah sunyi mengolah sampah jadi rupiah

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Di sudut gang sempit yang dulu dikenal kumuh, kini berdiri deretan karung rapi berisi botol plastik, kardus, dan kaleng. Bau menyengat yang dulu identik dengan kawasan itu, perlahan memudar, digantikan aktivitas warga yang sibuk memilah sampah.

Di sinilah perubahan dimulai dari sesuatu yang sering dianggap tidak berguna, kini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.

Pemilahan sampah, bukan lagi sekadar jargon lingkungan. Bagi sebagian masyarakat, ini adalah strategi bertahan hidup, sekaligus peluang ekonomi.

Konsepnya sederhana, namun berdampak besar dan terasa. Memisahkan sampah organik dan anorganik di tingkat rumah tangga, lalu mengelolanya dengan tepat.

Sampah anorganik, seperti plastik, kertas, dan logam, kini memiliki nilai jual. Warga mengumpulkannya, membersihkan, lalu menyetorkan ke bank sampah atau pengepul.

Dari situ, uang mulai mengalir. Meski tidak selalu besar, tetapi cukup untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Dalam sebulan, satu keluarga bisa memperoleh tambahan penghasilan yang berarti, terutama jika dilakukan secara konsisten.

Seperti di Kelurahan Utan Kayu Selatan, kebiasaan ini bukan sesuatu yang baru. Dalam beberapa tahun terakhir, pemilahan sampah anorganik telah menjadi kewajiban bagi petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

Di balik kebijakan itu, praktik memilah sampah sebenarnya sudah lebih dulu tumbuh secara organik di masyarakat.

Sampah yang terkumpul setiap hari tidak lagi langsung dibuang. Sebagian besar justru dibawa ke sebuah gudang kecil di belakang kantor kelurahan.

Bangunan sederhana berukuran sekitar dua kali satu meter itu mungkin tampak biasa, bahkan nyaris tak terlihat. Namun di dalamnya, tersimpan ratusan kilogram sampah yang telah dipilah rapi menunggu waktu untuk berubah menjadi uang.

Gudang itu menjadi titik temu antara kebiasaan lama dan cara pandang baru. Di sana, limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari siklus ekonomi baru.

Plastik, kardus, kertas, hingga logam disusun berdasarkan jenisnya, karena masing-masing memiliki nilai jual yang berbeda ketika dijual ke pengepul.

Pergerakan sampah di tempat itu mengikuti ritme yang unik. Setiap hari ada tambahan, setiap beberapa minggu ada pengosongan, dan ketika ruang tak lagi mampu menampung, pengepul dipanggil.

Timbangan digelar, karung-karung dibuka, dan satu per satu jenis sampah dihitung nilainya. Dari proses sederhana itu, ratusan ribu rupiah dihasilkan setiap bulan.

Pria berkaos oranye bernama Cecep itu menerangkan, satu kilogram kertas bisa dihargai Rp2.400, kardus Rp1.800, botol mineral Rp2.400, besi ringan Rp3.500, besi isi Rp4.500, almunium bekas minuman Rp25.000, dan almunium berat Rp27.000. Nilai tersebut mungkin tidak terlihat besar dalam skala kota, tetapi memiliki arti penting di tingkat individu dan komunitas.

Pendapatan tambahan ini menjadi bukti bahwa pekerjaan yang selama ini dianggap sepele, ternyata bisa memberikan manfaat ekonomi nyata.

Di balik rutinitas tersebut, terbentuk pula pola kerja baru. Setiap petugas memiliki tanggung jawab mengumpulkan sampah anorganik dalam jumlah tertentu setiap bulan. Perlahan, kebiasaan memilah sampah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan bagian dari keseharian.

Mereka tak lagi memandang aktivitas ini sebelah mata, tapi menjadi sesuatu yang dilakukan tanpa keraguan. Ada kesadaran bahwa setiap botol plastik atau potongan kardus yang dikumpulkan memiliki nilai, sekecil apa pun itu.

Tidak hanya berhenti pada sampah anorganik, pengelolaan limbah juga merambah ke jenis organik. Sisa makanan dan dedaunan mulai diolah menjadi kompos dan maggot. Meski belum menjadi sumber penghasilan utama, langkah ini memperlihatkan upaya untuk memanfaatkan seluruh jenis sampah secara maksimal.

Di sisi lain, keterbatasan fasilitas masih menjadi tantangan nyata. Gudang kecil yang digunakan saat ini hanya mampu menampung dalam jumlah terbatas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi pengelolaan sampah sebenarnya jauh lebih besar jika didukung infrastruktur yang memadai.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.