KNKT Investigasi Kecelakaan KA Argo Bromo dan KRL di Bekasi Timur

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) resmi memulai proses investigasi guna mengungkap penyebab kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026). Insiden tragis tersebut mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan pengumpulan data awal di lokasi kejadian. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Money, tim investigasi memerlukan waktu untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai faktor teknis maupun operasional yang memicu tabrakan tersebut.

Ketua Tim Humas KNKT, Anggo Anugoro, mengonfirmasi bahwa saat ini tim lapangan masih bekerja dalam tahap paling awal dari rangkaian penyelidikan panjang.

"Masih dalam proses awal investigasi," jelas Anggo Anugoro, Ketua Tim Humas KNKT.

Pihaknya menyatakan belum dapat memberikan rincian lebih lanjut kepada publik terkait temuan di lapangan karena proses pengumpulan bukti masih berlangsung.

"Masih dalam proses awal investigasi. Belum ada perkembangan yang bisa kami share untuk saat ini," ujar Anggo.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memberikan dukungan penuh terhadap langkah investigasi yang dilakukan oleh KNKT. Namun, ia menekankan bahwa prioritas utama kementerian saat ini adalah memastikan penanganan terhadap para korban terdampak berjalan dengan baik.

"Kami memastikan proses evakuasi dilakukan secara cepat dengan mengutamakan keselamatan korban terdampak," ujar Dudy Purwagandhi, Menteri Perhubungan.

Dudy menambahkan bahwa koordinasi lintas sektoral terus diperkuat untuk menjamin efektivitas langkah penyelamatan di area stasiun sebelum penyelidikan mendalam dilakukan.

"Kami terus berkoordinasi secara intensif dengan seluruh pihak terkait agar proses evakuasi berjalan optimal," kata Dudy.

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, memaparkan rincian teknis mengenai proses penyelamatan yang berlangsung di lapangan. Tim SAR menghadapi kendala signifikan karena kondisi fisik gerbong yang rusak parah dan menghimpit tubuh para korban.

"Kami tidak ingin ada pergerakan yang malah memperburuk kondisi mereka. Ekstrikasi dilakukan secara perlahan hingga badan korban terpisah dari material yang menghimpit," jelas Mohammad Syafii, Kepala Basarnas.

Tim di lapangan menggunakan peralatan khusus untuk memotong dan mengangkat material logam demi membebaskan korban yang terjebak di dalam rangkaian kereta.

"Kejadian ini merupakan duka mendalam bagi kita semua. Kami mohon doa dari seluruh rakyat Indonesia agar proses evakuasi ini bisa segera tuntas dan seluruh korban dapat segera dikeluarkan dalam kondisi selamat," katanya.