Delegasi Amerika Serikat memprotes keras terpilihnya Iran sebagai salah satu wakil presiden dalam konferensi peninjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) di markas besar PBB, New York, Senin (27/4/2026). Penunjukan tersebut memicu perdebatan sengit antara kedua negara mengenai komitmen keamanan nuklir internasional.
Konferensi ke-11 untuk meninjau implementasi NPT ini dijadwalkan berlangsung selama satu bulan penuh untuk mengevaluasi perjanjian yang berlaku sejak 1970. Dilansir dari Detikcom, terpilihnya Iran merupakan hasil nominasi dari kelompok negara-negara non-blok dan beberapa negara lainnya yang disahkan oleh Ketua Konferensi, Do Hung Viet.
Asisten sekretaris untuk Biro Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi AS, Christopher Yeaw, melontarkan kritik tajam terhadap posisi baru Teheran tersebut. Pihak AS menilai rekam jejak Iran tidak sejalan dengan semangat perjanjian non-proliferasi.
"tidak dapat disangkal bahwa Iran telah sejak lama menunjukkan penghinaan terhadap komitmen non-proliferasi NPT" kata Christopher Yeaw, Asisten Sekretaris Biro Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi AS.
Yeaw juga menyoroti kegagalan Iran dalam menjalin kerja sama penuh dengan pengawas nuklir global terkait aktivitas pengayaan uranium mereka. Ia menganggap keputusan konferensi ini sebagai langkah yang merugikan integritas organisasi.
"hal yang sangat memalukan dan mencoreng kredibilitas konferensi ini" ujar Christopher Yeaw.
Menanggapi serangan diplomatik tersebut, Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memberikan pembelaan. Teheran menuding balik AS sedang melakukan manuver politik untuk menyudutkan program nuklir mereka yang diklaim bertujuan damai.
"tidak berdasar dan bermotif politik" kata Reza Najafi, Duta Besar Iran untuk IAEA.
Najafi kemudian memaparkan kritiknya terhadap kapasitas Amerika Serikat sebagai penilai kepatuhan nuklir global. Ia merujuk pada sejarah penggunaan senjata nuklir oleh Washington serta upaya modernisasi persenjataan yang masih terus dilakukan.
"Tidak dapat dibenarkan bahwa Amerika Serikat, sebagai satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata nuklir, dan negara yang terus memperluas serta memodernisasi persenjataan nuklirnya... berupaya memposisikan diri sebagai penengah kepatuhan" tegas Reza Najafi.
Perselisihan ini terjadi di tengah pernyataan Presiden Donald Trump pada Minggu (26/4) yang menegaskan kembali komitmennya untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Meski Iran bersikeras program nuklirnya hanya untuk energi, intelijen Washington mencatat adanya program pengembangan senjata yang sempat berjalan hingga 2003.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·