KNKT Ungkap Penyebab KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi

Sedang Trending 38 menit yang lalu

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono membeberkan kronologi kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Kamis (21/5/2026). Insiden tersebut dipicu oleh instruksi pusat kendali yang meminta masinis hanya melakukan pengereman bertahap.

Dilansir dari Detikcom, informasi mengenai adanya gangguan di depan jalur kereta sebenarnya sudah diterima oleh masinis sejak jarak 1.300 meter sebelum lokasi benturan. Namun, komunikasi yang terbatas membuat petugas pusat kendali tidak mengetahui situasi riil di lapangan.

"Tadi saya sampaikan bahwa dari jarak 1.300 meter setelah menerima berita bahwa di depan ada temperan masinis sudah melakukan pengereman, cuma karena situasinya di Pusdal itu tidak tahu yang sebenarnya karena komunikasinya kan lewat suara saja, lewat voice, jadi kondisi lapangannya seperti apa dia nggak tahu," kata Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.

Pusat Pengendali (Pusdal) perjalanan kereta api di Manggarai kemudian menginstruksikan masinis untuk memperlambat laju kereta secara perlahan. Selain perintah pengereman bertahap, masinis juga diminta untuk terus membunyikan suling lokomotif.

"Cuma memberi tahu bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit terus kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35. Nah itu aja yang disampaikan sehingga masinis sudah melakukan merespons apa yang disampaikan oleh Pusdal dari pengendali operasi di Manggarai," ungkap Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.

Hingga saat ini, pihak KNKT masih melakukan penyelidikan lebih mendalam terkait aspek-aspek lain yang melatarbelakangi kecelakaan tersebut. Langkah antisipasi dari Pusdal dinilai didasari oleh asumsi positif demi kehati-hatian karena keterbatasan visual.

"Ya karena memang di Pusdal kan temperan seperti apa mereka belum tahu kondisi lapangan seperti apa. Maka dia positif thinking saja bahwa kurangi kecepatan lah intinya untuk berhati-hati dan 35 atau memberi klakson lah," tutur Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.

Upaya masinis untuk menahan laju KA Argo Bromo Anggrek dipastikan sudah berjalan sebelum tabrakan terjadi. Pemberitahuan awal tersebut didapatkan dari pengatur perjalanan kereta api jalur timur.

"Sebetulnya masinis, saya ingin ceritakan masinis sudah mulai ngerem di 1,3 km sebelum lokasi tabrakan, Pak. Dia tahunya karena diinformasikan oleh PK Timur, pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek. Kenapa hal ini nanti di komunikasi akan lebih jelas, Pak," kata Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.

Secara teknis, kereta api berkecepatan tinggi membutuhkan ruang jarak berkisar antara 900 meter hingga 1 kilometer untuk dapat berhenti secara sempurna. Akibat arahan untuk mengerem sedikit demi sedikit, momentum kereta tidak dapat dihentikan tepat waktu.

"Tapi karena dia tahunya di komunikasi pusat kendali ada temperan di JBL85, 'Kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35' artinya banyak banyak klakson, jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum, karena informasi yang diterima dari PK Timur rem dikit-dikit dan sambil bunyikan klakson," jelas Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT.