Komentar ikonik Jose Mourinho mengenai pertandingan dengan skor besar kembali mencuat ke publik menyusul duel sengit antara PSG dan Bayern Munich pada Rabu, 29 April 2026. Laga leg pertama semifinal Liga Champions tersebut berakhir dengan total sembilan gol.
Skor akhir 5-4 untuk kemenangan PSG di markas lawan tersebut memicu para penggemar sepak bola untuk mengingat kembali kritik pedas yang pernah dilontarkan Mourinho. Dilansir dari vietnam.vn, pelatih asal Portugal itu pernah memberikan pandangan skeptis terhadap produktivitas gol yang terlalu tinggi dalam satu pertandingan.
Kritik tersebut pertama kali muncul setelah laga dramatis antara Tottenham Hotspur dan Arsenal pada November 2004 silam. Saat itu, Mourinho yang masih menukangi Chelsea merasa tidak puas dengan tontonan yang disajikan di lapangan.
"Sembilan gol bukanlah sepak bola," kata Mourinho.
Pandangan sang pelatih didasari oleh analisis bahwa skor yang terlalu tinggi merupakan indikasi rapuhnya barisan pertahanan sebuah tim. Ia bahkan sempat menyebut kinerja para pemain belakang dalam pertandingan tersebut sebagai sesuatu yang memalukan bagi profesi mereka.
"Itu skor hoki, bukan sepak bola," ujar Mourinho.
Mourinho menekankan bahwa dalam sesi latihan pun, ia tidak akan mentoleransi kelalaian pertahanan yang mengakibatkan banjir gol. Baginya, tugas defensif adalah elemen krusial yang tidak boleh diabaikan oleh para pemain dalam kondisi apa pun.
"Jika skor dalam latihan mencapai angka setinggi itu, saya akan segera mengirim para pemain ke ruang ganti, karena mereka tidak menjalankan tugas defensif mereka," tegas Mourinho.
Prinsip sepak bola pragmatis Mourinho ini sangat bertolak belakang dengan filosofi menyerang total yang diusung oleh mendiang legenda Belanda, Johan Cruyff. Meski mengundang perdebatan, filosofi Mourinho tetap mengedepankan pertahanan solid sebagai fondasi untuk meraih kemenangan yang konsisten dan tahan lama.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·