Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda mengatakan bahwa peringatan Hari Otonomi Daerah (Otda) XXX perlu jadi momen untuk kembali menata pembinaan dan koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah demi meningkatkan kemandirian daerah.
Dia mengatakan bahwa keuangan 90 persen daerah itu bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN). Ketika transfer keuangan ke daerah itu dikurangi untuk program pusat yang bersifat strategis, maka daerah akan kelimpungan.
"Daerah harus mampu menghadirkan kemandirian dan alternatif keuangan lainnya dan karena itu ruang-ruang bagi daerah untuk menghadirkan kemandirian itu harus juga tetap diberikan oleh pusat," kata Rifqinizamy di Jakarta, Senin.
Selain itu, dia mengatakan seluruh pihak harus menyadari bahwa pemberian otonomi daerah adalah bagian dari cara merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bhinneka, plural, dan majemuk.
Dengan cara itu, menurut dia, negara tetap memberikan ruang bagi kekhasan daerah dan ruang politik orang-orang di daerah untuk tetap bisa merasa nyaman di dalam satu rumah bernama Indonesia.
Namun di sisi lain, dia menilai bahwa ada saja penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan oleh kepala daerah, yang justru bersikap sebagai "raja kecil". Nyatanya, kata dia, sikap-sikap itu tidak mempunyai korelasi besar terhadap kemajuan dan kesejahteraan masyarakat daerah.
Maka dari itu, dia mengatakan titik keseimbangan antara pusat dan daerah merupakan hal yang penting. Komunikasi daerah dan pusat, kata dia, harus terus dibangun dan kepala pemerintahan tertinggi harus mampu berkomunikasi dengan seluruh pihak di setiap daerah.
"Peringatan otonomi daerah ini bukan sekadar pemberian kewenangan dan keuangan kepada daerah tetapi pemberian penghargaan dan ruang yang cukup besar dan nyaman bagi daerah di rumah besar bernama Indonesia," katanya.
Baca juga: Anggota DPR minta perkuat mitigasi hadapi ancaman "El Nino Godzilla"
Baca juga: Anggota DPR sebut RUU Sisdiknas jamin perlindungan guru
Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·