Moskow (ANTARA) - Lebih dari separuh sekolah di Inggris memiliki bangunan yang tidak layak pakai untuk kegiatan belajar dan mengajar karena kekurangan dana untuk pemeliharaan.
Menurut survei yang diterbitkan Asosiasi Nasional Kepala Sekolah (NAHT) Inggris, Selasa, sebanyak 51 persen dari 326 kepala sekolah di asosiasi tersebut menyatakan lembaga pendidikan mereka tidak dapat digunakan dan tidak layak untuk tujuan pembelajaran.
Dalam survei yang dilakukan pada 2-16 Februari lalu, ratusan kepala sekolah yang tergabung dalam serikat pekerja profesi itu menyatakan ketidaklayakan bangunan tersebut antara lain berupa jendela dan atap bocor, mesin pemanas dan pintu tahan api sudah lapuk, serta ada jamur dan sirap.
Dari para kepala sekolah yang menjadi responden dalam jajak pendapat itu, hampir 73 persen di antaranya mengatakan beberapa sekolah bahkan menutup toilet karena tidak dapat digunakan.
Dalam 41 persen kasus tersebut, ruang untuk anak-anak difabel, termasuk area luar ruangan dan ruang kelas dengan perlengkapan khusus, juga tidak dapat digunakan.
Sementara itu, 64 persen dari responden melaporkan taman bermain di sekolah mereka harus tutup karena tidak dapat dimanfaatkan.
"Sembilan dari sepuluh (96 persen) mengatakan bahwa mereka tidak mendapat dana yang cukup untuk memelihara bangunan dan aset milik sekolah mereka," demikian menurut NAHT.
Badan Audit Nasional Inggris memperkirakan biaya pembangunan sekolah di negara itu paling tidak tidak sebesar 13,8 miliar pound sterling (Rp329 triliun).
Para kepala sekolah di Inggris itu mengatakan telah bertahan hidup dengan biaya dari kegiatan penggalangan dana dan hibah amal untuk menutupi kesenjangan anggaran belanja sekolah tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Inggris siapkan strategi cadangan hadapi kekurangan pasokan
Baca juga: Inggris minta pertemuan Charles dan Trump tanpa bidikan kamera
Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·