Kurs Rupiah Hari Ini Naik ke Rp17.685 Per Dolar AS Usai Suku Bunga BI Meningkat

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai tukar kurs rupiah hari ini, Kamis (21/5/2026), ditutup menguat ke level Rp17.685 per dolar Amerika Serikat (AS) berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Penguatan mata uang Garuda ini terjadi di tengah respons positif pasar terhadap langkah agresif Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan demi meredam gejolak nilai tukar.

Mata uang rupiah berhasil rebound dari tekanan berat yang terjadi pada awal pekan ini. Langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing dinilai mampu menahan laju pelemahan yang sempat mengkhawatirkan para pelaku usaha dan investor dalam negeri.

Berdasarkan data resmi yang dirilis Bank Indonesia, posisi kurs rupiah hari ini menunjukkan pemulihan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Pada pergerakan pasar valuta asing sepanjang pertengahan Mei 2026, rupiah sempat menyentuh level terendahnya sebelum akhirnya mengalami penguatan tipis pada perdagangan hari ini.

Berikut adalah rincian historis nilai tukar kurs JISDOR Bank Indonesia selama bulan Mei 2026:

Tabel Pergerakan Nilai Tukar Kurs JISDOR Bank Indonesia Mei 2026Tanggal ReferensiNilai Kurs Per Dolar AS (IDR)
20 Mei 2026Rp17.685,00
19 Mei 2026Rp17.719,00
18 Mei 2026Rp17.666,00
13 Mei 2026Rp17.496,00
12 Mei 2026Rp17.514,00
11 Mei 2026Rp17.415,00
8 Mei 2026Rp17.375,00
7 Mei 2026Rp17.362,00
6 Mei 2026Rp17.405,00
5 Mei 2026Rp17.425,00

Melihat data di atas, rupiah sempat terdepresiasi cukup dalam hingga menembus angka Rp17.719 per dolar AS pada Selasa, 19 Mei 2026. Namun, dalam dua hari terakhir posisi mata uang nasional perlahan bergerak menjauhi zona terendah tersebut berkat bauran kebijakan moneter yang ketat.

Suku Bunga BI Naik Dongkrak Stabilitas Mata Uang

Faktor utama yang mendorong stabilitas kurs rupiah hari ini adalah keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) hingga menyentuh level 5,25% pada Mei 2026. Langkah ini diambil setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75% sejak Oktober tahun lalu.

Rupiah Melemah Sentuh Rp 17.700 per USD, Barang Ini Jadi Lebih Mahal | METRO TV

Kenaikan suku bunga acuan ini dinilai memberikan sentimen positif bagi investor asing untuk menempatkan dana mereka di instrumen keuangan dalam negeri. Kebijakan moneter yang ketat ini diambil sebagai langkah preventif untuk memitigasi risiko global yang memicu pelarian modal keluar.

Selain faktor suku bunga, kondisi fundamental ekonomi domestik juga menunjukkan performa yang cukup solid. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Trading Economics, tingkat inflasi Indonesia berada di angka 2,42% pada April 2026, yang menunjukkan penurunan signifikan dari periode sebelumnya yang sempat menyentuh angka 3,48%.

Faktor Eksternal dan Respons Pasar Keuangan

Meskipun kurs rupiah hari ini berhasil menguat, para analis pasar uang mengingatkan bahwa tekanan dari eksternal masih membayangi pergerakan nilai tukar dalam jangka menengah. Kuatnya indeks dolar AS di pasar global dipicu oleh ketidakpastian kebijakan bank sentral AS serta ketegangan geopolitik global yang belum mereda.

Di dalam negeri, pelaku industri manufaktur dan impor terus mencermati pergerakan fluktuasi nilai tukar ini secara ketat. Pelemahan rupiah yang terlalu dalam dikhawatirkan dapat meningkatkan biaya produksi akibat membengkaknya harga bahan baku impor.

Pemerintah bersama Bank Indonesia menegaskan akan terus berada di pasar untuk menjaga volatilitas nilai tukar agar tetap berada dalam batas yang aman bagi momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah koordinasi fiskal dan moneter terus diperkuat guna menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global sepanjang kuartal kedua tahun ini.

Informasi nilai tukar mata uang dan kondisi ekonomi ini bersifat informatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar finansial. Selalu pantau informasi kurs resmi melalui otoritas perbankan sebelum melakukan transaksi valuta asing skala besar.

Hingga penutupan perdagangan pasar spot hari ini, aktivitas transaksi valuta asing di sejumlah perbankan nasional berjalan normal dengan pergerakan spread jual-beli yang relatif stabil. Bank Indonesia dijadwalkan akan terus memantau perkembangan pasokan likuiditas valas guna memastikan kebutuhan domestik tetap terpenuhi tanpa memicu gejolak harga yang berlebihan.