Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat hingga sempat menyentuh level Rp 17.300. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam ini dipicu oleh berbagai dinamika ekonomi global yang terjadi belakangan ini.
Dilansir dari Detik Finance, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia (BI), Juli Budi Winantya, menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh ketegangan perang antara AS dan Iran yang diprediksi akan berlangsung dalam jangka waktu lama.
"Kondisi ekonomi global banyak diwarnai perang. Banyak pihak, pelaku pasar memperkirakan perang lebih lama, yang sudah kita lihat dampaknya kenaikan harga minyak karena gangguan produksi dan distribusi, dan ini diikuti oleh kenaikan harga komoditas lain baik itu gas, kemudian juga non-energi lainnya ada pangan sudah cenderung meningkat," kata Juli.
Konflik bersenjata tersebut menghambat jalur distribusi barang di tingkat internasional. Situasi ini memicu revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang semula dipatok 3,1% kini turun menjadi 3%.
Selain penurunan pertumbuhan ekonomi, ancaman inflasi global juga diprediksi meningkat menjadi 4,2% dari perkiraan awal sebesar 4,1%. Kondisi stagflasi ini membuat bank sentral di berbagai negara memiliki ruang terbatas untuk melonggarkan kebijakan moneter mereka.
"Dengan pertumbuhan ekonomi lebih rendah, inflasi lebih tinggi, ruang pelonggaran kebijakan moneter global bank sentral secara global menjadi lebih terbatas. Khusus The Fed, Fed Fund Rate (FFR) mungkin turun, tapi lebih lambat dibandingkan prakiraan kita. Bahkan ada kemungkinan hingga akhir tahun stay, tidak berubah," ujar Juli.
Amerika Serikat diproyeksikan akan meningkatkan belanja negara guna membiayai operasional terkait konflik tersebut. Hal ini berujung pada melebarnya defisit fiskal dan meningkatkan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS.
Kenaikan yield surat utang tersebut menarik minat investor untuk memindahkan modal mereka dari negara berkembang kembali ke AS. Fenomena ini memperkuat posisi dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia lainnya.
"Attractiveness dari investasi aset keuangan US lebih meningkat. Apresiasi dolar AS ini terjadi, sehingga dia menguat relatif terhadap hampir semua mata uang negara di dunia," tutur Juli.
Proyeksi Ekonomi dan Intervensi Bank Indonesia
Meskipun tekanan eksternal meningkat, pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan tetap terjaga pada kisaran 4,9% hingga 5,7%. Target ini didukung oleh berbagai stimulus fiskal serta bauran kebijakan moneter yang diterapkan otoritas terkait.
"Kita prakirakan pertumbuhan ekonomi masih di 4,9-5,7% di tahun ini, dan ini tentunya ada dukungan dari stimulus fiskal maupun kebijakan moneter dan bauran kebijakan BI untuk bisa mencapai kisaran 4,9-5,7%. Inflasi kisaran target 2,5% dengan deviasi 1%," kata Juli.
Hingga Maret 2026, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$ 148,2 miliar. Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Februari 2026 yang sempat mencapai US$ 151,9 miliar.
"Cadangan devisa per Maret tercatat masih tinggi, US$ 148,2 miliar. Nilai tukar relatif stabil, cukup terjaga. Ada faktor kebijakan, intensitas BI dalam intervensi semakin kuat, didukung tidak hanya di spot tapi di forward baik dalam negeri dan luar negeri dan kebijakan terkait transaksi valas akan kita lakukan sebagai bentuk komitmen BI menjaga stabilitas," ujarnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·