Lalu Lintas Kapal Tanker di Selat Hormuz Meningkat Saat Blokade

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Arus pelayaran kapal supertanker yang membawa muatan minyak melalui Selat Hormuz menunjukkan tren peningkatan pada pertengahan Mei 2026. Sejak 10 Mei, empat kapal tanker raksasa yang masing-masing mengangkut 2 juta barel minyak mentah telah keluar dari jalur tersebut di tengah blokade yang masih berlangsung.

Data pelacakan kapal yang dilansir dari Bloombergtechnoz mencatat laju pengiriman minyak ini mendekati angka 2 juta barel per hari. Meskipun ada kenaikan, angka tersebut masih jauh di bawah level normal sebelum perang yang biasanya mencatat sekitar 20 kapal tanker melintas setiap harinya.

Blokade di Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan global hingga mencapai satu miliar barel minyak. Kondisi ini diperparah dengan anjloknya pengiriman dari Iran sejak pemberlakuan blokade oleh Amerika Serikat, meskipun pengiriman dari negara-negara tetangga mulai merangkak naik.

Pengawasan ketat terhadap lalu lintas maritim dilakukan karena wilayah tersebut menjadi pusat perebutan kekuasaan diplomatik sejak Februari lalu. Iran telah menetapkan prosedur baru bagi pelayaran melalui Otoritas Selat Teluk Persia, sementara Amerika Serikat tetap menyiagakan blokade di tepi Teluk Oman.

Peningkatan aktivitas juga terlihat dari jumlah total kapal yang melintas, di mana tercatat sebanyak 38 kapal dari berbagai jenis melewati selat tersebut dalam tujuh hari terakhir. Angka ini merupakan lonjakan tiga kali lipat dibandingkan pekan yang berakhir pada 9 Mei, meskipun banyak kapal memilih mematikan sinyal satelit demi keamanan.

Analis angkutan laut dari Signal Maritime memberikan catatan kritis terkait situasi tersebut di tengah risiko pelayaran yang masih tinggi.

"Memang ada peningkatan, tetapi angkanya sangat rendah, sehingga tidak akan banyak berpengaruh," kata Georgios Sakellariou, analis angkutan laut dari Signal Maritime.

Sakellariou menambahkan bahwa ketersediaan kapal baru yang masuk ke area selat tetap menjadi kendala utama bagi normalisasi pasokan minyak dunia.

"Masalah utamanya adalah, meski semua kapal tanker yang ada di dalam selat berangkat, kapal-kapal baru tidak akan masuk dalam waktu dekat," kata Georgios Sakellariou, analis angkutan laut dari Signal Maritime.

Laporan pelacakan menunjukkan mayoritas kapal yang berangkat memuat minyak dari Irak, sementara sebagian lainnya mengangkut kargo dari Uni Emirat Arab dan Kuwait. Di sisi lain, Iran menyatakan pada Kamis bahwa kapal-kapal asal China kini diizinkan melintasi jalur air strategis tersebut setelah adanya koordinasi diplomatik.

Tren kenaikan volume penyeberangan ini tidak hanya terbatas pada tanker minyak mentah, tetapi juga mulai diikuti oleh kapal pengangkut gas berukuran besar. Beberapa perusahaan besar seperti Saudi Arabia Aramco Trading Co dan Abu Dhabi National Oil Co dilaporkan tetap berupaya mengeluarkan kargo mereka melalui jalur tersebut sejak penutupan terjadi.