Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti berbagai hambatan struktural dan kultural yang masih membelenggu perempuan Indonesia pada diskusi publik di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (9/5/2026). Ia menegaskan perlunya keberanian luar biasa bagi kaum perempuan untuk mendobrak batasan tersebut.
Kesenjangan partisipasi kerja antara laki-laki dan perempuan di Indonesia masih terlampau lebar sebagaimana dilansir dari Detikcom. Data menunjukkan bahwa meski jumlah perempuan mencapai 140 juta jiwa atau 49,9 persen dari populasi nasional, hanya sekitar 55 persen yang masuk ke dunia kerja.
Angka tersebut tertinggal jauh dibandingkan laki-laki yang tingkat partisipasi kerjanya menyentuh 84 persen. Selain itu, sekitar 61 persen perempuan bekerja di sektor tanpa perlindungan sosial dengan besaran upah yang lebih rendah daripada laki-laki di posisi serupa.
"Perempuan itu berhadapan dengan tembok kaca. Tembok kaca di mana dia harus memiliki keberanian luar biasa untuk mampu mendobraknya," kata Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI.
Lestari kemudian memaparkan kondisi keterwakilan politik perempuan di DPR RI yang saat ini baru mencapai angka 22 persen secara umum. Meskipun Partai NasDem telah menempatkan lebih dari 30 persen calon legislatif perempuan dalam tiga pemilu terakhir, tantangan di lapangan masih sangat besar.
"Sulit sekali mencari perempuan yang siap. Ada yang bersedia, tapi belum bisa diterima oleh pemerintah. Suaminya siap, keluarganya tidak memberikan izin," jelas Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI.
Struktur sosial yang belum adil dan keberadaan bias budaya patriarkis disebut sebagai akar masalah utama, bukan masalah kapasitas individu. Bias ini menciptakan pandangan miring terhadap kemampuan kepemimpinan perempuan di ranah publik.
"Stereotip bahwa perempuan tidak mampu mengambil keputusan penting masih mengakar. Padahal, ketika perempuan diberikan kesempatan, banyak bukti bahwa perempuan mampu berada di depan," tegas Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI.
Guna mewujudkan perubahan nyata, Lestari mendorong peningkatan pendidikan di segala aspek kehidupan. Ia juga berpendapat bahwa perempuan harus memiliki keberanian untuk melepas ekspektasi kesempurnaan yang sering kali dibebankan oleh lingkungan sosial.
"Saya sering ditanya kunci perempuan bisa maju. Saya bilang perempuan itu harus mau menjadi tidak sempurna. Kita dituntut serba bisa, tapi kita harus berani melepas itu," ujar Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI.
Penegasan kembali diberikan bahwa Indonesia memiliki banyak perempuan hebat, namun mereka masih kekurangan ruang gerak dan perlindungan hukum yang memadai. Menurutnya, keberanian kolektif diperlukan untuk mengubah situasi saat ini.
"Membela perempuan adalah sebuah keharusan. Bicara tentang perempuan, memposisikan perempuan, sebetulnya kita sedang bicara agenda peradaban bangsa," pungkas Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·