11 May 2026 15:26
Bloomberg Technoz, Jakarta - Lonjakan harga minyak mentah dunia di atas US$100 per barel diperkirakan tidak cuma menekan inflasi, tetapi juga mengubah pola konsumsi masyarakat di Asia Tenggara.
Dampaknya, nilai transaksi e-commerce atau gross merchandise value (GMV) berpotensi turun 8-9% di kawasan. GMV merupakan total nilai barang yang terjual di platform digital.
Tekanan ini terjadi karena kenaikan harga energi dan pangan membuat masyarakat mengalihkan pengeluaran ke kebutuhan pokok. Akibatnya, belanja barang non-esensial seperti fesyen, elektronik, dan produk gaya hidup cenderung dikurangi.
Biaya Hidup Naik, Belanja Non-Esensial Dipangkas
Menurut perhitungan tim Bloomberg Economics, potensi kerugian GMV industri e-commerce Asia Tenggara dapat mencapai US$13 miliar jika harga minyak Brent rata-rata bertahan di US$100 per barel.
Baca Juga
GMV Shopee diperkirakan turun sekitar 8%, sementara TikTok Shop dapat tertekan hingga 8,6% secara agregat di kawasan.
Proyeksi ini menggunakan asumsi bahwa 70% kenaikan biaya hidup akibat mahalnya bahan bakar dan pangan, membuat rumah tangga memangkas pengeluaran diskresioner.
Pengeluaran diskresioner adalah pengeluaran bersifat opsional yang tidak penting dan umumnya tidak berhubungan dengan kebutuhan hidup harian.
Dalam skenario yang lebih buruk, yakni ketika seluruh tekanan biaya diteruskan ke konsumen, potensi kehilangan GMV bahkan dapat menyentuh US$19 miliar.
Tekanan tersebut juga akan berdampak langsung terhadap pendapatan platform e-commerce.
Bagi Shopee, misalnya, penurunan GMV berarti pendapatan komisi ikut tergerus, terutama jika konsumen semakin beralih ke kategori produk dengan margin lebih rendah.
Analisis Bloomberg Economics tersebut didasarkan pada komposisi belanja di Shopee dan TikTok Shop, yang secara gabungan menyumbang sekitar 82% GMV e-commerce Asia Tenggara pada 2025 menurut Momentum Works.
Dibanding Shopee, TikTok Shop dinilai sedikit lebih rentan terhadap guncangan harga minyak. Hal ini karena porsi produk non-esensial di TikTok Shop relatif lebih besar, sekaligus memiliki paparan lebih tinggi ke pasar yang sensitif terhadap inflasi.
Indonesia dan Vietnam Paling Rentan
Dampak kenaikan harga minyak diperkirakan tidak merata di Asia Tenggara. Indonesia dan Vietnam disebut sebagai negara yang paling berisiko terdampak karena sebagian besar pengeluaran rumah tangga masih terserap untuk kebutuhan dasar.
Dalam skenario harga Brent bertahan di US$100 per barel, pengeluaran diskresioner di Indonesia dan Vietnam diperkirakan bisa turun 14%-15% dibanding kondisi normal. Asumsinya, pendapatan riil masyarakat tidak berubah dan 70% tekanan inflasi diserap melalui pengurangan belanja non-esensial.
Bloomberg Economics memproyeksikan pengeluaran diskresioner kawasan Asia Tenggara terkontraksi akibat kenaikan harga minyak dunia, sebagai berikut:
- Vietnam: -14,6%
- Indonesia: -14,1%
- Filipina: -12,8%
- Thailand: -10,2%
- Malaysia: -3,7%
- Singapura: -2,2%
Di Indonesia, 41% pengeluaran rumah tangga digunakan untuk belanja makanan, hanya 22% yang dialokasikan untuk belanja diskresioner. Sehingga, saat harga pangan dan energi naik, sebagian pendapatan otomatis terserap untuk kebutuhan dasar.
Vietnam juga menunjukkan pola serupa, porsi belanja makanan mencapai 34%, sementara belanja diskresioner hanya 31%.
Sebaliknya, Singapura jauh lebih tahan banting terhadap tekanan inflasi karena pengeluaran makanan hanya 8%, dan belanja diskresioner mencapai 60%.
Perubahan pola konsumsi yang terjadi di kawasan karena kenaikan harga minyak telah mendorong biaya transportasi dan pangan lebih tinggi, sementara pengeluaran wajib lain relatif tetap. Dengan ruang pendapatan yang terbatas, masyarakat akhirnya mengurangi konsumsi barang sekunder.
Bloomberg Economics mengacu pada data Center for Global Development yang menunjukkan bahwa secara global, menyebut kenaikan harga minyak rata-rata dapat mendorong kenaikan harga pangan hingga 26%.
Namun, dampaknya di Asia Tenggara disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara, seperti kapasitas produksi pertanian domestik, kekuatan nilai tukar, serta efisiensi rantai pasok.
Besarnya dampak juga dipengaruhi kebijakan subsidi energi. Negara dengan subsidi besar cenderung mampu menahan lonjakan harga di tingkat konsumen, sementara negara yang menggunakan mekanisme harga pasar akan mengalami transmisi inflasi lebih cepat.
Kategori Belanja Jadi Penentu
Meski tekanan terhadap daya beli meningkat, dampak terhadap industri e-commerce tidak sepenuhnya drastis karena ditopang kategori produk semi-esensial.
Di Shopee dan TikTok Shop, kategori diskresioner seperti fesyen dan elektronik memang menyumbang sekitar 40%-50% GMV.
Namun, sebagian besar transaksi masih berasal dari kategori semi-diskresioner seperti kesehatan dan kecantikan, produk ibu dan bayi, serta kebutuhan rumah tangga.
Produk-produk ini umumnya tetap dibeli konsumen, meskipun masyarakat cenderung menurunkan nilai pembelian atau memilih produk yang lebih murah.
TikTok Shop tercatat memiliki porsi produk diskresioner lebih besar dibanding Shopee, yakni sekitar 48% versus 44%. Karena itu, platform berbasis video pendek tersebut diperkirakan lebih sensitif terhadap perlambatan konsumsi.
Sementara itu, kategori kebutuhan pokok memang porsinya lebih kecil di e-commerce, tetapi tetap menjadi penopang stabilitas transaksi ketika daya beli melemah.
Diversifikasi Pertumbuhan Kawasan
Di sisi lain, profil pertumbuhan e-commerce Asia Tenggara kini mulai lebih tersebar dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Indonesia.
Momentum Works mencatat Thailand dan Malaysia menjadi pasar dengan pertumbuhan GMV tercepat pada 2025, masing-masing tumbuh 52% dan 48%. Sebaliknya, Indonesia, meski masih menjadi pasar terbesar dengan kontribusi 37% terhadap GMV regional, hanya tumbuh sekitar 2%.
Diversifikasi ini membantu meredam tekanan kawasan secara keseluruhan karena negara-negara dengan pertumbuhan tinggi cenderung memiliki sensitivitas inflasi yang lebih rendah dibanding Indonesia dan Vietnam.
Namun demikian, titik rawan tetap ada, terutama di negara dengan porsi belanja kebutuhan pokok yang tinggi dan daya beli masyarakat yang lebih rentan terhadap kenaikan biaya hidup.
Beban Kenaikan BBM Berbeda di Tiap Negara
Efek mahalnya minyak terhadap biaya rumah tangga juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan energi masing-masing negara di kawasan.
Malaysia dan Indonesia relatif mampu menahan kenaikan harga bahan bakar melalui subsidi. Indonesia, misalnya, menerapkan sistem dua jalur: BBM bersubsidi untuk masyarakat luas dipatok pemerintah, sementara BBM nonsubsidi mengikuti harga pasar.
Sebaliknya, Thailand dan Filipina menggunakan mekanisme harga berbasis pasar sehingga kenaikan harga minyak global langsung diteruskan ke konsumen. Vietnam juga melakukan penyesuaian harga secara berkala, meski biasanya terdapat jeda waktu sebelum sepenuhnya mengikuti tren global.
Pengalaman saat krisis energi Rusia-Ukraina pada 2022 menunjukkan pola serupa. Malaysia memilih menyerap lonjakan harga lewat peningkatan subsidi, sedangkan Indonesia sempat memperbesar subsidi sebelum akhirnya menaikkan harga BBM sekitar 30% akibat tekanan fiskal yang semakin berat.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·