Luhut Binsar Pandjaitan Siapkan Simulasi Dampak Harga Minyak US$ 100 per Barel

Sedang Trending 54 menit yang lalu

Langkah antisipasi kini tengah dipersiapkan pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian global yang memicu fluktuasi harga komoditas energi dunia. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan telah membuat simulasi dampak harga minyak jika menyentuh US$ 100 per barel. Seperti diberitakan oleh Detik Finance, pemodelan tersebut dirancang sebagai langkah mitigasi risiko bagi stabilitas domestik.

Menurut Luhut, simulasi ini sudah disampaikan ke Presiden Prabowo Subianto juga disertai rekomendasi. Langkah proaktif ini diambil mengingat pergerakan harga minyak mentah dunia terus dipantau secara ketat. Angka tersebut menjadi perhatian khusus karena asumsi dasar harga minyak mentah dipatok US$ 70 dolar per barel dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

"Kami membuat model simulasi secara cermat jika harga minyak menyentuh US$ 100 dolar per barel. Kajian ini sudah disampaikan ke Presiden," ujar Luhut, dikutip dari akun Instagram @luhut.pandjaitan, Kamis (21/5/2026).

Lonjakan harga energi di pasar global dinilai berpotensi memicu efek domino terhadap sektor-sektor strategis di dalam negeri. Luhut juga telah memberikan rekomendasi stimulus ekonomi kepada Prabowo. Pasalnya, kenaikan harga minyak bisa berdampak pada lonjakan harga barang yang turut berpengaruh pada perekonomian Indonesia.

"Jadi kita juga harus menyiapkan stimulus untuk mempertahankan ekonomi kami. Karena kami memahami dampak harga minyak pada ekonomi kami, pada barang-barang. Saya pikir mulai bulan ini atau mungkin awal bulan berikutnya. Jadi kita akan melihat harga," terang Luhut.

Meskipun menghadapi tantangan eksternal dari sektor energi, kondisi ketahanan ekonomi domestik dilaporkan masih berada dalam posisi yang kokoh. Pada saat yang sama, menurut Luhut, kondisi fundamental ekonomi Indonesia terpantau cukup baik.

Indikator makroekonomi menunjukkan performa yang positif di tengah dinamika pasar global. Ekonomi masih tumbuh cepat di level 5,61% saat inflasi bisa dijaga di 2,4%. Inflasi, menurutnya dapat dijaga dengan baik meskipun ada gejolak harga minyak.

"Ekonomi kami masih sangat kuat, dibanding dengan negara lain. Inflasi kami masih terjaga 2,4%," tambah Luhut.