Madu odeng dan jalan panjang anak-anak Badui menembus kota

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Di tengah derasnya perubahan zaman, langkah kaki Sarip dan Samid yang menyusuri jalanan tanpa alas kaki menjadi gambaran bagaimana tradisi, ketekunan, dan perjuangan ekonomi terus berjalan berdampingan di tanah Badui.

Lebak (ANTARA) - Terik matahari siang menyengat Kota Rangkasbitung. Di sebuah pos keamanan yang sudah lama tak terpakai, dua remaja duduk berteduh sambil mengusap peluh. Keduanya adalah kakak beradik warga Badui Dalam: Sarip (16) dan Samid (14).

Di samping mereka tergeletak dua kantong besar berisi 40 botol madu Odeng, madu hutan yang sejak turun-temurun menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat adat Badui di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten.

Madu itu bukan sekadar dagangan. Cairan nan manis itu adalah hasil perjalanan panjang melintasi hutan, perbukitan, dan jalanan beraspal sejauh ratusan kilometer yang ditempuh dengan berjalan kaki.

Bagi masyarakat Badui Dalam, aturan adat melarang penggunaan kendaraan bermotor. Karena itu, Sarip dan Samid harus mengandalkan langkah kaki untuk membawa madu dari Kampung Cikeusik di kawasan Badui Dalam menuju berbagai daerah pemasaran di Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.

Mereka berangkat pada Selasa (12/5). Selain membawa madu, keduanya juga menenteng pakaian seadanya. Dalam perjalanan, mereka sempat menginap di Polsek Cimarga sebelum kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalur Rangkasbitung-Tangerang sambil menawarkan madu dari rumah ke rumah dan sepanjang jalan.

“Kalau hari ini madu habis terjual, hari ini juga pulang,” ujar Sarip penuh semangat.

Siang itu, baru dua botol yang terjual. Namun wajahnya tetap tenang. Ia sudah terbiasa menjalani perjalanan semacam itu sejak usia 14 tahun. Selama dua tahun terakhir, Sarip rutin berdagang madu untuk membantu perekonomian orang tuanya sekaligus memenuhi kebutuhan pribadi.

Kini, ia mulai mengajak adiknya belajar berdagang. Sudah empat kali Samid ikut berjalan bersamanya.

Di komunitas Badui Dalam, anak-anak yang ikut menjajakan madu bukan pemandangan asing. Banyak di antara mereka turun membantu keluarga sejak usia belia.

Madu Odeng yang mereka jual berasal dari budidaya lebah hutan di kawasan Gunung Kendeng, wilayah hutan lindung tanah ulayat Badui. Dalam sekali perjalanan, 40 botol madu yang dibawa Sarip dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp6,5 juta, dengan harga jual berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per botol.

Perjalanan menuju Tangerang biasanya ditempuh selama sekitar sepekan hingga seluruh madu habis terjual. Saat lelah, mereka beristirahat di pos keamanan atau kantor polisi. Ketika malam tiba, mereka memilih mencari tempat aman untuk tidur.

Sarip mengaku tidak pernah berani berjualan hingga larut malam demi menghindari tindak kejahatan.

“Kalau sudah habis di Tangerang, kami pulang lagi ke Badui. Perjalanannya dua hari,” katanya.

Sarip dan Samid berjalan tanpa alas kaki melewati aspal panas, jalan berbatu, hingga kerikil tajam. Namun mereka mengaku sudah terbiasa. Rasa lelah dan sakit seakan kalah oleh tekad membawa uang pulang ke rumah.

“Kami senang kalau madu habis terjual dan bisa membawa uang untuk keluarga,” kata Sarip.

Semangat serupa juga dimiliki Santa (55), warga Badui Luar yang rutin berjalan kaki menjual madu Odeng hingga Cilegon dan Merak. Dari Serang, ia menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer dengan berjalan kaki.

Selama lima tahun terakhir, Santa berkeliling menjajakan madu ke Serang, Cilegon, Merak, bahkan Jakarta. Dalam sepekan, ia mampu menjual 35 botol madu dengan pendapatan sekitar Rp4 juta.

Menurut Santa, permintaan madu Odeng terus tinggi karena banyak pelanggan percaya khasiatnya bagi kesehatan. Madu itu diyakini membantu menjaga stamina, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah anemia, mengurangi risiko osteoporosis, hingga membantu melawan infeksi.

Pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, sopir, pedagang jamu, pejabat, hingga pengusaha.

Namun produksi madu tidak selalu stabil. Hasil panen sangat bergantung pada perkembangan lebah Odeng yang bersarang di pohon-pohon besar kawasan Gunung Kendeng.

Budidaya dilakukan secara tradisional. Madu diambil langsung dari sarang lebah untuk kemudian diperas menjadi cairan madu siap jual.

Belakangan, produksi meningkat seiring perubahan musim dari penghujan ke kemarau. Banyak pohon berbunga dan menghasilkan nektar melimpah, sehingga satu sarang bisa menghasilkan empat hingga enam botol madu.

“Sekarang produksi bisa sampai 40 botol per pekan,” ujar Santa.

Baca juga: Madu hutan Baduy dilirik konsumen Jakarta

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.