Menperin Jamin Stok Plastik Aman di Tengah Konflik Asia Barat

Sedang Trending 23 jam yang lalu

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan kepastian bahwa pasokan plastik dalam negeri tetap terjaga setelah melakukan pertemuan dengan para pelaku industri hulu hingga hilir pada Kamis (16/4/2026). Langkah ini diambil guna memitigasi dampak penutupan Selat Hormuz akibat konflik di Asia Barat yang memutus distribusi nafta.

Ketersediaan komoditas tersebut menjadi sorotan menyusul lonjakan harga plastik di pasar tradisional yang terjadi setiap hari sejak Senin (6/4/2026). Dilansir dari Money, kenaikan harga ini merupakan dampak berantai dari konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu.

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah,” ujar Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.

Pemerintah mencatat gangguan struktur harga terjadi karena pembengkakan biaya logistik, penerapan biaya tambahan premium, serta durasi pengiriman yang jauh lebih lama dari biasanya. Agus menjelaskan bahwa pelaku industri berkomitmen menjaga ketersediaan suplai, khususnya bagi para pelaku industri kecil yang paling terdampak kenaikan beban produksi.

“Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi” kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.

Kemenperin menilai situasi geopolitik global saat ini menjadi momentum krusial bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia. Ketergantungan terhadap bahan baku impor harus segera dikurangi dengan mengoptimalkan sumber daya domestik agar sektor manufaktur tidak mudah goyah oleh dinamika internasional.

“Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri, agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi,” tutur Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.

Salah satu alternatif yang dikaji adalah penggunaan minyak sawit mentah (CPO) untuk menggantikan peran nafta. Walaupun aspek keekonomian CPO saat ini masih tergolong tinggi, pemerintah melihat produk perkebunan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan demi menekan angka impor bahan baku.

“Kita harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO, meskipun tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung secara matang,” ucap Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.

Agus menambahkan bahwa persaingan global dalam memperebutkan bahan baku petrokimia akan semakin ketat seiring terbatasnya pasokan dunia. Pihaknya sedang merumuskan kebijakan agar produsen lokal bisa memperoleh bahan baku berkualitas dengan harga yang bersaing guna menjaga ketahanan manufaktur nasional.

“Kemenperin akan terus hadir bersama pelaku industri dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional menghadapi dinamika global,” kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian.

Pertemuan tersebut melibatkan berbagai pihak, di antaranya INAPLAS, PT Chandra Asri Petrochemical, PT Lotte Chemical Indonesia, hingga Indonesian Plastics Recyclers (IPR). Di tingkat pedagang, Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Reynaldi Sarijowan mengonfirmasi adanya kenaikan harga plastik yang sangat tajam dalam beberapa pekan terakhir akibat terputusnya rantai pasok produk minyak bumi.