Menteri P2MI perluas peluang kerja formal bagi PMI di Malaysia

Sedang Trending 40 menit yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin, pada Rabu, melakukan kunjungan ke Kuala Lumpur, Malaysia, dan bertemu jajaran Malaysian Chinese Association (MCA) untuk mendorong perluasan peluang pekerjaan formal bagi pekerja migran Indonesia (PMI).

"Sekarang poin-poin ataupun isinya sudah kita sama-sama setujui, dari sisi legal kita sudah selesai semua," ujar Menteri Mukhtarudin terkait kerja sama dengan MCA, sebagaimana keterangan Kementerian P2MI, Jakarta, Kamis (21/5).

"Tinggal kita cari waktu bersama untuk meresmikan dan menandatangani perjanjian yang kukuh antara kementerian secara B2B (Business-to-Business) dengan MCA," imbuh Mukhtarudin.

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan delegasi MCA ke kantor KP2MI pada akhir April tahun lalu.

Menteri Mukhtarudin menegaskan bahwa draf Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama antara kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan final, dan diharapkan akan diresmikan segera.

Dalam pernyataannya, Mukhtarudin mengatakan bahwa kapasitas pekerja migran Indonesia saat ini telah bergeser dari pekerjaan berketerampilan rendah (low skill) menuju sektor pekerjaan berketerampilan sedang (medium skill) dan tinggi (high skill).

​"Hari ini, Indonesia sudah mempersiapkan tenaga-tenaga skilled worker. Kita tidak lagi hanya fokus pada lower skill, tetapi sudah mengarah pada penciptaan tenaga kerja medium dan high skill," katanya.

Untuk itu, dia menyebutkan bahwa KP2MI saat ini telah banyak menempatkan pekerja migran terampil, termasuk di industri galangan kapal Korea Selatan hingga sektor engineering di China.

Terkait penempatan di Malaysia, Kementerian P2MI menyoroti tantangan berat dalam penempatan secara prosedural, karena banyak pekerja migran Indonesia yang bekerja di negara itu secara non-prosedural.

Pada periode 1 Januari hingga 17 Mei 2026, kementerian P2MK tercatat telah memfasilitasi pemulangan 5.112 pekerja migran bermasalah yang mayoritas bekerja secara non-prosedural atau tanpa dokumen resmi di Malaysia.

"Maka dari itu, kami berharap MCA dapat membantu mendukung, mengimbau perusahaan dan mitra strategis di Malaysia agar hanya melakukan perekrutan pekerja migran melalui mekanisme resmi, dan tidak mempekerjakan pekerja non-prosedural
demi meningkatkan pelindungan P
pekerja migran di Malaysia," katanya.

​Oleh karena itu, Mukhtarudin mendorong pembenahan tata kelola penempatan, dan berharap MCA dapat mengutamakan kesempatan kerja bagi pekerja migran terampil, khususnya tenaga kesehatan di rumah sakit milik MCA, serta sektor formal lainnya melalui jaringan perusahaan di bawah asosiasinya.

Pertemuan Menteri P2MI tersebut dan MCA diharapkan segera ditindaklanjuti dengan pembentukan Joint Working Group (JWG) atau Task Force bersama untuk menyusun roadmap jangka panjang pengembangan talenta dan penguatan sistem pelindungan pekerja migran di Malaysia.

Menanggapi optimisme atas rencana kerja sama tersebut, Presiden MCA Datuk Seri Wee Ka Siong menyampaikan apresiasi atas kunjungan delegasi Indonesia tersebut.

Dia menegaskan bahwa hubungan antara Indonesia dan Malaysia selama ini sudah berjalan sangat akrab dan harmonis.

​"Kami menyambut selamat datang jajaran Kementerian P2MI di Malaysia. Hubungan Indonesia dan Malaysia ini sangat akrab. Ini merupakan kehormatan besar karena Bapak Mukhtarudin adalah menteri pertama dari kementerian baru Indonesia yang datang mengunjungi kami di MCA," katanya.

​MCA menyatakan sangat terbuka untuk membangun kerja sama erat dengan KP2MI Indonesia, terutama dalam membangun ekosistem penempatan tenaga kerja secara holistik dan saling menguntungkan.

​"Saya sangat optimistis pertemuan hari ini akan mencatatkan sejarah baru bagi kedua negara. Mari kita terus perkuat hubungan persaudaraan ini agar semakin erat demi mewujudkan kemakmuran bersama," demikian kata Ka Siong.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.