VIDA tingkatkan kesadaran publik atas modus penipuan digital

Sedang Trending 34 menit yang lalu
Kami tidak ingin korban terus bertambah. Faces of Fraud adalah cara kami berkata bahwa kita semua punya peran dalam memutus rantai ini,

Jakarta (ANTARA) - PT Indonesia Digital Identity (VIDA), perusahaan layanan identitas digital dan fraud prevention (pencegahan penipuan), menghadirkan pameran bertajuk “Faces of Fraud” untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran publik terhadap berbagai modus penipuan yang semakin canggih.

Founder dan Group CEO VIDA Niki Luhur menuturkan, melalui inisiatif tersebut, lima korban penipuan digital membagikan cerita mereka dengan harapan agar pengalaman yang dialami tidak terulang lagi pada lebih banyak masyarakat.

“Melalui gerakan ini, kami ingin membuka mata publik bahwa dampak penipuan digital tidak hanya meninggalkan kerugian finansial, tetapi juga luka emosional, hilangnya rasa aman, dan dampak yang membekas dalam kehidupan sehari-hari,” kata Niki Luhur dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Waspada modus penipuan, BRI tegaskan pengajuan KUR tidak ditawarkan secara online

Ia menyatakan, pameran tersebut menampilkan kisah dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga hingga pekerja profesional, yang menjadi bukti bahwa siapa pun bisa menjadi sasaran penipuan digital.

Salah satu korban merupakan seorang pensiunan yang kehilangan seluruh tabungan akibat modus pengalihan dana ke aset kripto dalam waktu singkat.

Adapula korban yang dimanfaatkan data pribadinya untuk pinjaman online ilegal tanpa persetujuan, sehingga menderita beban psikologis yang berkepanjangan.

Baca juga: 8.000 WNI korban penipuan daring melapor ke KBRI Phnom Penh

Sementara korban lainnya mengalami penipuan dalam bentuk manipulasi emosi sehingga kehilangan dana pengobatan anaknya akibat terjebak dalam modus donasi palsu.

Niki mengatakan, whitepaper yang dirilis pihaknya bertajuk “SEA Digital Identity Fraud Outlook” mengungkapkan bahwa modus penipuan modern kini berkembang semakin terorganisasi dengan menggabungkan berbagai metode serangan dalam satu rangkaian yang terencana.

Ia menekankan bahwa selama kesadaran publik masih rendah dan ekosistem belum bergerak secara kolektif, maka jumlah korban akan terus bertambah.

Baca juga: Imigrasi Ngurah Rai verifikasi data 26 WNA diduga terlibat penipuan daring

Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi nyata antara pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat untuk memperkuat regulasi, mengadopsi sistem perlindungan digital berlapis, serta mengutamakan sikap kritis pada setiap interaksi digital.

"Kami tidak ingin korban terus bertambah. Faces of Fraud adalah cara kami berkata bahwa kita semua punya peran dalam memutus rantai ini," imbuh Niki.

Baca juga: Polri tangkap WNI buronan Interpol kasus penipuan daring lintas negara

Baca juga: YLKI dorong sistem penyelesaian sengketa digital terintegrasi via ODR

Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.