Menteri Pertahanan Mali, Gen. Sadio Camara, tewas dalam gelombang serangan besar oleh kelompok jihadis dan pemberontak yang berhasil menguasai beberapa kota serta pangkalan militer pada Sabtu, 25 April 2026. Pemerintah transisi Mali mengonfirmasi kematian pimpinan pertahanan tersebut di tengah meningkatnya kekerasan di negara yang dipimpin junta militer itu.
Pengumuman resmi mengenai kematian Camara disampaikan melalui unggahan di halaman Facebook Kementerian Pertahanan Mali pada hari Minggu. Juru bicara pemerintah, Gen. Issa Ousmane Coulibaly, turut menyiarkan kabar duka tersebut melalui stasiun televisi pemerintah sebagai bentuk belasungkawa nasional kepada keluarga korban.
Otoritas keamanan melaporkan bahwa kediaman Camara menjadi target utama serangan bom mobil bunuh diri yang diikuti oleh baku tembak pada hari Sabtu. Meski sempat memberikan perlawanan, sang jenderal mengalami luka fatal yang menyebabkan nyawanya tidak tertolong setelah dilarikan ke rumah sakit.
"He engaged in an exchange of fire with the assailants, some of whom he managed to neutralize," tulis pernyataan resmi pemerintah Mali.
Pihak berwenang menambahkan rincian mengenai kondisi terakhir menteri pertahanan tersebut sebelum meninggal dunia di fasilitas medis.
"During intense clashes, he was wounded and then transported to the hospital, where he unfortunately succumbed to his injuries," lanjut pernyataan pemerintah Mali.
Serangan serentak ini juga menargetkan ibu kota Bamako dan menantang kehadiran pasukan Rusia yang menjadi mitra keamanan utama Mali. Hingga Minggu, pemerintah menyatakan serangan telah mereda namun belum merilis jumlah total korban jiwa secara resmi, selain melaporkan adanya 16 orang yang terluka.
Kelompok separatis Front Pembebasan Azawad (FLA) mengklaim telah menguasai kota strategis Kidal di bagian utara setelah pasukan militer Mali dan korps Afrika Rusia ditarik mundur. Kidal sebelumnya merupakan benteng pertahanan pemberontak sebelum direbut kembali oleh pemerintah pada tahun 2023.
"Kidal is declared free," ujar juru bicara FLA, Mohamed El Maouloud Ramadan.
Ramadan menjelaskan bahwa operasi militer kali ini melibatkan koordinasi yang tidak biasa antara kelompok separatis dengan kelompok yang berafiliasi dengan al-Qaida, JNIM.
"This operation is being carried out in partnership with the JNIM, which is also committed to defending the people against the military regime in Bamako," kata Mohamed El Maouloud Ramadan.
Analis keamanan dari Soufan Center, Wassim Nasr, menilai kolaborasi antara kedua kelompok ini merupakan fenomena pertama yang terjadi di tingkat politik dan militer. Sementara itu, peneliti dari Konrad Adenauer Foundation, Ulf Laessing, berpendapat bahwa serangan ini merupakan pukulan telak bagi kemitraan Mali dengan Rusia.
"The attacks are a major blow to Russia as the mercenaries had no intelligence about the attacks and were unable to protect major cities," kata Ulf Laessing.
Pasca insiden tersebut, pemerintah memberlakukan jam malam selama tiga hari mulai pukul 21.00 hingga 06.00 di wilayah Bamako untuk memulihkan keamanan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·