Merangkai pilar-pilar babak baru industri hulu migas

Sedang Trending 1 jam yang lalu
yang terpenting dari tahap awal pengembangan migas nonkonvensional adalah mempersiapkan ekosistemnya dan memperhatikan biaya pengeboran sumurnya

Tangerang, Banten (ANTARA) - Sudah saatnya Indonesia menyiapkan diri untuk beranjak dari era easy energy dan merangkai pilar-pilar memasuki babak baru industri hulu minyak dan gas bumi (migas).

Menurut paparan CEO Mubadala Energy Mansoor Mohamed Al Hamed dalam sesi Global Executive Talk pada IPA Convex 2026, sinyal meredupnya era easy energy terlihat dari ketidakpastian yang semakin tinggi di sektor hulu migas dengan risiko bisnis yang kian membesar.

Babak akhir dari era itu juga diwarnai oleh semakin terbatasnya akses sumber daya migas yang konvensional, sumur-sumur migas yang kian dimakan usia, serta tren penurunan produksi alamiah.

Tantangan-tantangan itulah yang juga dihadapi oleh pemerintah Indonesia dalam merealisasikan target lifting minyak yang termaktub di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 610 ribu barel minyak per hari. Hingga April 2026, rata-rata lifting minyak Indonesia masih di bawah 600 ribu barel per hari.

Uniknya, berakhirnya era easy energy tak memunculkan pesimisme bagi para pelaku industri hulu migas. Mereka justru meyakini bahwa inilah saatnya untuk berkolaborasi, membentuk kemitraan baru, sehingga bisa mempercepat pengembangan proyek-proyek energi.

Berbagai tantangan tersebut justru menggenjot semangat pelaku industri di sektor hulu migas untuk bermanuver dengan menciptakan inovasi dan memanfaatkan kemajuan teknologi, salah satunya dengan membuka jalan menuju pengembangan migas nonkonvensional.

Migas nonkonvensional merupakan jenis migas yang terjebak dalam bebatuan yang lebih rapat dan sulit ditembus. Untuk mengekstrak migas tersebut, diperlukan teknologi yang lebih canggih, seperti fracking untuk ekstraksi.

Dengan demikian, biaya yang dibutuhkan pun lebih tinggi apabila dibandingkan dengan migas konvensional.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza dalam forum yang sama mengungkapkan potensi migas nonkonvensional yang dimiliki oleh Indonesia di tengah tantangan berakhirnya era easy energy.

Pertamina telah mengidentifikasi potensi besar pada sub-cekungan North Aman yang diperkirakan memiliki sumber daya mencapai 11,3 miliar barel minyak di tempat (BBO). Potensi ini menjadi peluang signifikan yang selama ini belum pernah tergarap di Indonesia.

Saat ini, lanjut Oki, pekerjaan rumah bagi Indonesia adalah bagaimana pemerintah menghadirkan regulasi dan kebijakan fiskal yang kompetitif untuk mendukung pengembangan migas nonkonvensional.

Pekerjaan rumah itulah yang kini tengah dikerjakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).


Dukungan pemerintah

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.