Militer Amerika Serikat melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas militer Iran setelah sejumlah kapal perusak Angkatan Laut AS menjadi sasaran di Selat Hormuz pada Kamis (7/5/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, Komando Pusat AS atau Centcom mengonfirmasi tindakan tersebut diambil guna merespons ancaman langsung di jalur pelayaran vital tersebut.
Centcom melaporkan bahwa serangan dari pihak Iran tersebut melibatkan berbagai jenis alutsista berbahaya. Dalam penjelasannya, pihak militer mengidentifikasi keterlibatan proyektil jarak jauh dan unit tempur udara nirawak dalam insiden yang terjadi di wilayah perairan internasional tersebut.
"berbagai rudal, pesawat nirawak (drone), dan kapal cepat." sebut Centcom.
Pernyataan resmi tersebut juga menegaskan bahwa serangan yang dilakukan oleh pasukan Iran tidak berhasil mengenai target utama mereka. Pihak komando memastikan integritas seluruh aset militer Amerika Serikat yang berada di lokasi kejadian tetap terjaga sepenuhnya.
"tidak ada aset AS yang terkena serangan." tegas Centcom.
Menanggapi agresi tersebut, pasukan AS segera menargetkan titik-titik strategis militer yang dianggap bertanggung jawab atas peluncuran serangan. Operasi balasan ini difokuskan pada infrastruktur komando serta lokasi-lokasi yang mendukung aktivitas pengintaian dan intelijen musuh.
"mengeliminasi ancaman yang datang dan menargetkan fasilitas militer Iran yang bertanggung jawab atas serangan tersebut, termasuk situs peluncuran rudal dan drone, lokasi komando dan kendali, serta simpul intelijen, pengawasan, dan pengintaian," tulis Centcom.
Meskipun melakukan serangan balik yang cukup masif, Centcom menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki niat untuk memperluas cakupan konflik menjadi perang yang lebih besar. Namun, mereka tetap mempertahankan kesiagaan tinggi untuk menjamin keselamatan seluruh personel Amerika di kawasan Teluk.
"tidak mencari eskalasi, namun tetap dalam posisi siap untuk melindungi pasukan Amerika." tambah pihak komando militer.
Konfrontasi fisik ini terjadi di tengah kebuntuan diplomatik terkait proposal pembukaan kembali Selat Hormuz yang telah diajukan pemerintahan Donald Trump. Hingga saat ini, Teheran belum memberikan jawaban resmi atas tawaran moratorium pengayaan uranium dan penghentian blokade pelabuhan yang diusulkan sebagai jalan tengah untuk mengakhiri konflik selama sepuluh minggu terakhir.
Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, memberikan tanggapan terkait situasi diplomasi yang sedang berjalan di tengah memanasnya situasi lapangan. Ia menyerukan agar semua pihak menahan diri dari pernyataan yang prematur mengenai kesepakatan damai.
"kita perlu menunggu dan tidak terburu-buru membuat deklarasi maupun headline" kata Danny Danon, Duta Besar Israel untuk PBB.
Di sisi lain, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pihaknya terus berkomunikasi secara intensif dengan Washington mengenai langkah-langkah selanjutnya. Fokus utama pemerintah Israel adalah memastikan setiap langkah diplomatik selaras dengan kepentingan keamanan regional.
"tidak ada kejutan" kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Ketegangan ini telah memicu ketidakstabilan ekonomi global dengan harga bensin di Amerika Serikat mencapai US$4,50 per galon. Presiden Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada pertengahan Mei 2026 untuk membahas dampak krisis energi ini terhadap negara-negara importir minyak besar.
"mengambil" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·