Jakarta (ANTARA) - Tidak ada yang benar-benar siap mendengar kalimat “Indonesia tersingkir di fase grup Piala Thomas.” Bukan di perempat final, bukan pula di semifinal, melainkan gugur lebih awal dari yang pernah terjadi sepanjang sejarah keikutsertaan Merah Putih dalam turnamen beregu itu.
Di Forum Horsens, Denmark, Rabu dini hari WIB, satu bab penting dalam perjalanan bulu tangkis Indonesia di ajang beregu putra paling prestisius itu mendadak berubah arah.
Kekalahan 1-4 dari Prancis bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan penanda sebuah era suram karena untuk pertama kalinya Indonesia tidak berlanjut ke fase gugur.
Sejak debut pada 1958, Indonesia selalu menemukan jalan untuk tetap berada di fase kompetitif Piala Thomas. Bahkan ketika performa naik turun, nama besar dengan 14 gelar juara selalu menjadi penopang psikologis bahwa “Indonesia akan tetap ada di babak berikutnya”. Hingga 2026, asumsi itu akhirnya runtuh.
Indonesia datang ke Grup D dengan status unggulan dan dua kemenangan awal yang seolah membuka jalur aman.
Kemenangan 5-0 atas Aljazair dan 3-2 atas Thailand sempat menempatkan Indonesia berada di posisi puncak sementara Grup D.
Namun Piala Thomas 2026 memperlihatkan satu hal yang makin nyata dalam bulu tangkis modern yakni tidak ada lagi grup yang benar-benar aman.
Thailand mengejutkan dengan mengalahkan Prancis 4-1. Hasil itu mengubah seluruh kalkulasi. Bukan lagi sekadar menang atau kalah, tetapi juga selisih, momentum, dan tekanan di setiap partai.
Laga terakhir Indonesia kontra Prancis pun berubah menjadi pertandingan dengan beban berlapis menjadi juara grup, runner-up, hingga risiko tersingkir.
Pada satu sisi, tradisi Indonesia di Piala Thomas selama ini sering bertumpu pada sektor tunggal sebagai fondasi awal. Namun di Horsens, fondasi itu justru retak lebih dulu.
Baca juga: Ketika sejarah memilih tidak campur tangan di Horsens
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·