Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,19 persen ke level Rp17.743 per dollar AS pada perdagangan Senin (25/5/2026). Posisi ini menjadi level terendah sepanjang sejarah mata uang Indonesia di tengah penguatan mayoritas mata uang di Asia.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, pelemahan rupiah terjadi saat mata uang kawasan lain justru bergerak di zona hijau. Baht Thailand memimpin penguatan sebesar 0,58 persen, diikuti oleh rupee India dan ringgit Malaysia yang terdongkrak harapan damai Amerika Serikat dan Iran.
Indeks dollar AS terhadap enam mata uang utama bergerak di kisaran 99. Penjinakan harga minyak global di bawah US$100 per barel turut menopang mata uang Asia, namun rupiah menjadi satu-satunya yang melemah akibat faktor domestik.
Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga di atas proyeksi pasar untuk mengantisipasi volatilitas global, kenaikan harga minyak, dan ketidakstabilan arus modal. Pemerintah juga melakukan intervensi di pasar surat utang yang menurunkan imbal hasil tenor 10 tahun sebesar 5,2 bps menjadi 6,68 persen.
Kondisi fiskal dan ketidakpastian kebijakan masih menjadi beban utama yang menahan penguatan rupiah. Selain itu, posisi eksternal Indonesia melemah seiring pelebaran defisit transaksi berjalan akibat menyusutnya surplus perdagangan pada kuartal pertama tahun ini.
Data neraca pembayaran Indonesia mencatat pembengkakan defisit menjadi US$9,15 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari defisit kuartal sebelumnya sebesar US$6,07 miliar.
Kekhawatiran investor terhadap pasar keuangan domestik semakin meningkat karena pemerintah belum memiliki alternatif pendapatan baru. Padahal, situasi ini terjadi di tengah rencana anggaran belanja negara yang dinilai tetap agresif.
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·