OJK: IHSG Mulai Terapresiasi 1,44% pada Mei 2026, Sinyal Positif Pasar Modal

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Calon anggota Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan paparan saat mengikuti Uji Kelayakan dan Kepatutan dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan penguatan pada awal Mei 2026. Setelah sempat mengalami tekanan pada kuartal I tahun ini, IHSG pada Mei 2026 terapresiasi sebesar 1,44 persen secara month-to-date (mtd). “Memasuki bulan Mei 2026, IHSG menunjukkan tren penguatan dan per 5 Mei kemarin ditutup pada level 7.057,11 sehingga indeks telah terapresiasi sebesar 1,44 persen secara month-to-date,” ujar Friderica, ketika konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dikutip Jumat (8/5). Kata Friderica, penguatan IHSG menjadi sinyal positif bagi pasar modal domestik di tengah kondisi global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Per 31 Maret 2026, IHSG ditutup pada level 7.048,22 atau terkoreksi 18,49 persen. Meski demikian, secara tahunan indeks masih tumbuh positif sebesar 8,26 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

“Mencermati pasar modal Indonesia, pasar modal dalam negeri bergerak dinamis di triwulan I tahun ini, seiring peningkatan ketidakpastian global,” kata Friderica. Menurut dia, dinamika pasar saham RI masih dipengaruhi perkembangan ekonomi global, mulai dari arah suku bunga internasional, arus modal asing, hingga kondisi geopolitik dunia. Meski demikian, pasar modal Indonesia dinilai tetap memiliki daya tahan yang kuat. Hingga 5 Mei 2026, penghimpunan dana di pasar modal tercatat mencapai Rp 59,35 triliun secara year-to-date (ytd). Mayoritas dana tersebut berasal dari penerbitan efek bersifat utang dan sukuk. “Capaian ini tentu saja menunjukkan terjaganya minat fundraising di pasar modal Indonesia yang didominasi oleh penerbitan efek bersifat utang dan atau suku senilai Rp 58,9 triliun,” ujarnya. Selain itu, jumlah investor pasar modal Indonesia juga terus meningkat. Hingga kuartal I 2026, jumlah investor tercatat mencapai 24,7 juta single investor identification (SID). Berdasarkan data terbaru per Kamis (6/5), jumlah investor bahkan sudah menyentuh angka 26 juta SID. “Jadi ini juga menunjukkan confidence terhadap pasar modal Indonesia dengan banyak masuknya investor-investor retail domestik di pasar modal Indonesia,” katanya.