Pakar beberkan kemungkinan penyebab taksi listrik mogok di rel KA

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Insiden terlibatnya taksi listrik dalam kecelakaan kereta api jarak jauh dan kereta api komuter pada Senin (27/4) di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, memunculkan perhatian publik terkait kemungkinan dan dugaan kendaraan listrik tersebut mengalami mogok mendadak, khususnya saat melintasi rel.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung Yannes Martinus Pasaribu kepada Antara pada Rabu memaparkan beberapa kemungkinan teknis yang dapat menjadi penyebab kejadian tersebut.

Menurut Yannes, salah satu faktor yang mungkin terjadi berkaitan dengan baterai dengan tegangan rendah alias aki.

Baca juga: Pakar berkendara tekankan etika saat melewati perlintasan sebidang 

Baca juga: Pakar ungkap strategi jaga pertumbuhan EV tanpa bergantung insentif

“Secara teknis, berbagai kemungkinan yang bisa terjadi adalah baterai low voltage 12V yang jadi sumber daya awal untuk menghidupkan sistem komputer, relay dan kontaktor, sistem keselamatan, sensor, dan modul kontrol, proses booting saat mobil dinyalakan, sehingga saat tegangannya turun terlalu rendah maka seluruh sistem yang disebutkan akan terdampak," kata dia.

Selain itu, ia juga menyoroti faktor getaran saat taksi listrik Green SM tersebut melintasi rel.

“Getaran panjang saat berkendara pada sistem sensor dan ADAS yang dapat mengendurkan berbagai bagian dan saat ditambahkan dengan getaran keras berpotensi menyebabkan berbagai sambungan atau komponen terlepas dan berujung pada berhentinya motor atau turunnya efisiensi mekanisme transmisi penggerak, sehingga EV berhenti," jelas Yannes.

Kemungkinan lain adalah aktifnya sistem keamanan cerdas kendaraan secara otomatis saat terdeteksi adanya anomali.

“Ketika sistem mendeteksi anomali, fitur keamanan seperti steering lock atau immobilizer bisa aktif secara otomatis dan mengunci seluruh sistem kendaraan," Yannes menjelaskan.

Baca juga: Kemenperin perkuat peran "early adopter" guna pacu pasar EV

Selain itu, Yannes mengatakan potensi gangguan juga bisa jadi bersumber pada sistem manajemen baterai (BMS).

“Gangguan komunikasi battery management system yang berpotensi menyebabkan kesalahan dalam pembacaan arus listrik, estimasi SOC yang salah yang berujung misalnya pada pengambilan keputusan seperti padam mendadak," imbuhnya.

Selain itu, kegagalan komponen utama juga dapat berdampak signifikan.

Jika inverter atau konverter DC-DC gagal, kendaraan bisa mengalami hilangnya daya secara tiba-tiba, penurunan akselerasi, atau kegagalan sistem total.

Meski demikian, ia menekankan bahwa seluruh kemungkinan tersebut masih bersifat teknis dan memerlukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kejadian.

Kecelakaan yang melibatkan kereta api jarak jauh dan kereta api komuter pada Senin (27/4) terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan sejumlah orang terluka.

Dalam insiden kecelakaan itu, Kereta Api Argo Bromo menabrak KRL Commuter Line yang berhenti di Stasiun Bekasi Timur setelah satu taksi menemper KRL di area perlintasan kereta dekat Bulak Kapal menurut Humas PT Kereta Api Indonesia Daop I Jakarta.

Baca juga: Cuaca panas ekstrem percepat degradasi baterai kendaraan listrik

Baca juga: Mobil SUV dan EV dominasi gelaran Beijing Auto Show 2026

Baca juga: Alasan warga Indonesia lirik mobil listrik China

Pewarta:
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

  • Tags
  • kecelakaan kereta bekasi
  • kecelakaan ka bekasi
  • green sm