Pemerintah Pakistan memperketat pengamanan di Islamabad pada Senin, 20 April 2026, sebagai persiapan menjadi tuan rumah potensi putaran kedua perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketidakpastian diplomasi akibat aksi militer terbaru di Teluk Oman.
Persiapan mediasi ini diluncurkan menyusul insiden penembakan dan penyitaan kapal kargo berbendera Iran oleh Angkatan Laut AS akhir pekan lalu. Dilansir dari Bloombergtechnoz, peristiwa di Selat Hormuz tersebut menjadi penyitaan pertama dalam blokade Amerika Serikat yang mengancam kelanjutan dialog damai.
Otoritas Pakistan telah menutup akses lalu lintas menuju kawasan sensitif "Red Zone" yang menjadi lokasi gedung pemerintahan dan kantor kedutaan besar. Hotel-hotel utama seperti Hotel Serena, Marriott, dan Movenpick telah menghentikan penerimaan tamu publik guna memfasilitasi negosiasi tertutup bagi delegasi kedua negara.
Instruksi bekerja dari rumah juga telah diberikan kepada kantor dan sekolah di dalam zona tersebut, sementara operasional transportasi umum kota dihentikan sepenuhnya. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi terpantau melakukan koordinasi keamanan dengan pihak kedutaan besar AS di Islamabad pada Senin pagi.
Delegasi Amerika Serikat dijadwalkan tiba di Pakistan pada Senin di bawah pimpinan Wakil Presiden JD Vance. Tim negosiasi ini turut menyertakan utusan khusus Steve Witkoff serta Jared Kushner guna membahas kelanjutan gencatan senjata yang akan berakhir pada Selasa mendatang.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyampaikan bahwa Teheran belum memastikan kehadiran mereka dalam pertemuan tersebut. Ia menyoroti sikap pihak Amerika Serikat dalam proses diplomasi yang sedang berjalan.
"Ada berbagai indikasi bahwa tidak ada keseriusan dari pihak AS dalam memajukan diplomasi," ujar Esmail Baghaei, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Pernyataan tersebut menunjukkan keraguan Teheran meskipun keputusan final mengenai partisipasi dalam perundingan belum ditetapkan secara resmi. Upaya diplomasi tetap berlanjut melalui komunikasi tingkat tinggi antara pimpinan negara di kawasan.
Perdana Menteri Shehbaz Sharif sebelumnya telah melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian selama 45 menit pada Minggu malam. Dalam komunikasi tersebut, Sharif menegaskan posisi strategis negaranya dalam meredam konflik regional.
"Pakistan akan tetap 'sepenuhnya berkomitmen untuk memajukan perdamaian dan keamanan regional'," kata Shehbaz Sharif, Perdana Menteri Pakistan.
Pernyataan resmi dari kantor perdana menteri tersebut mempertegas peran Pakistan sebagai mediator setelah gagalnya kesepakatan pada putaran pertama perundingan tanggal 11–12 April. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, juga dilaporkan telah mengunjungi Teheran sebagai bagian dari rangkaian upaya mediasi tersebut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·